Pengunduran Azwar Anas dan Cairnya Politik Pilgub 2018

Geliat Pilgub Jatim semakin hari semakin dinamis. Berbagai isu berhamburan di ruang publik. Kondisi ini harus diakui telah mengakibatkan peta politik pilgub semakin mencair dan sulit ditebak. Setelah sempat mencuat nama Yenny Wahid dalam bursa pencalonan, kini publik dibuat geger oleh isu mundurnya Azwar Anas dari bursa pencalonan Pilgub Jatim 2018.

Meski belum diumumkan secara resmi oleh partai pengusung, khususnya PDIP sebagai partai poros utama. Mundurnya seorang Azwar Anas menimbulkan banyak misteri yang menarik untuk dikuliti. Santer selentingan kabar pengunduran Anas dilatari oleh keinginan dirinya untuk fokus membangun Banyuwangi. Namun ada pula kabar miring seputar tersebarnya foto tak senonoh Anas yang tersebar luas di ruang maya.

Berkenaan dengan ini, tidak ada yang tahu alasan pasti mundurnya seorang anas, kecuali Anas dan elit partai pengusungnya. Namun demikian, sebagai bagian dari dinamika politik, mundurnya Anas tentu sudah melalui perhitungan politik yang matang. Melibatkan elit partai pengusung dalam upaya menyukseskan pencalonan Gus Ipul sebagai Gubenur Jatim.

Sebagai dinamika politik, mundurnya Anas dapat kita tafsirkan pada dua hal. Pertama, kian menguatnya posisi Khofifah. Beberapa lembaga survei menunjukkan tingkat popularitas dan elektabilitas Khofifah masih ada di atas Gus Ipul. Berkenaan dengan ini, sebelumnya ada kepercayaan kehadiran sosok Anas dirasa cukup startegis untuk mendampingi, namun seiring berjalannya waktu keberadaan Anas masih belum dapat mendongkrak posisi Gus Ipul. Mencutanya nama Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, untuk mengisi posisi Anas bisa kita pahami sebagai political strategy dalam upaya penguatan tersebut.

Kedua, sebagaimana kita tahu Pilkada Serentak 2018 merupakan perhelatan politik paling menentukan. Meski kelasnya berada di level daerah, namun pilkada tahun ini memiliki rasa dan aroma pilpres. Jawa Timur, sebagai salah satu lumbung suara nasional—selain Jawa Tengah dan Jawa Barat—memiliki andil besar dalam menentukan peta politik nasional, khususnya di tahun 2019 mendatang. Sebab itu, setiap partai akan sangat berhati-hati mengusung jagoannya. Karena jika kalah dalam Pilkada 2018, akan sangat berpengaruh pada perhelatan Pemilu 2019 nanti.

Dengan demikian, mencairnya dinamika politik dalam perhelatan Pilgub Jatim sejatinya bukan sekadar kepentingan di pentas politik lokal, namun kuat hubungannya dengan kepentingan politik nasional, khususnya Pemilu Akbar 2019.

Abd. Hannan

Abd. Hannan

Magister Sosiologi, lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Email: hannan.taufiqi@gmail.com.