Perang Gender di Pilkada Jatim

Pilkada Jatim sudah di depan mata, dua poros akan bertarung memperebutkan kursi kepemimpinan daerah. Saifullah Yusuf (Gus Ipul) di bawah poros PDIP, PKB, Gerindra, dan PKS berduet dengan Puti Guntur Soekarno. Sementara kompetitornya, Khofifah Indar Parawansa yang disokong oleh Demokrat, Nasdem, PPP, Hanura, Golkar, PAN, dan PKPI berpatner dengan Bupati muda Trenggalek, Emil Elistiano Dardak.

Duel Gus Ipul vs Khofifah bisa dibilang sebagai duel politik paling menarik, panas, dan ketat. Pasalnya, keduanya merupakan figur berpengaruh yang secara kultural tumbuh besar dari akar yang sama, yakni NU. Dengan kesamaan latar tersebut, sudah barang tentu keduanya akan salaing cakar-cakaran memperebutkan suara Nahdliyin.

Namun, terlepas dari pembicaraan seputar perebuatan pengaruh NU, masih ada hal lain yang tak kalah menarik dibahas, yakni seputar perang gender. Dalam kontestasi kepemimpinan Jatim kali ini, aroma peperangan gender begitu terasa. Gus Ipul hadir sebagai representasi kelompok masyarakat laki-laki. Sedangkan lawannya, Khofifah merupakan simbol perwakilan kalangan perempuan. Meski secara teoritis aspek gender tidaklah dibenarkan dibawa ke ranah politik, namun secara praktis, keberpihakan suara atas nama gender tidak dapat dinafikan.

Dalam kacamata yang tak lazim—terlepas dari pengamatan umum akan pengaruh mobilitas religio-ideologi—aspek gender bisa jadi  satu penjelas. Jadi, sekarang yang menjadi prediktor signifikan untuk menjelaskan perilaku pemilih warga Jatim ada pada ikatan emosional subjektivitas gender masing-masing pemilih. Dari sudut pertimbangan matematika gender, laki-laki akan cenderung memilih Gus Ipul dan perempuan akan memilih Khofifah.

Harus kita akui, bahwa gaya perilaku pemilih warga Jatim memiliki varian berbeda. Antara warga di wilayah Tapal Kuda, Madura, Matraman, dan wilayah Arek mempunyai karakteristik masing-masing. Namun demikian, dalam konteks politik daerah, ada beberapa unsur yang tidak bisa kita capture dari sudut pembacaan politik yang common sense. Bahwa di Jatim pertaruhan politik berpusat di suara Nahdliyin, itu tidak lah sepenuhnya benar. Karena di beberapa daerah, di sekitaran Mataraman dan Arek, misalnya, suara kelompok nasionalis sangat kuat.

Dengan varian keunikan seperti ini, bukan hal yang mustahil jika aspek gender, kekuatan emak-emak atau bapak-bapak, misalnya, bisa jadi indikator pembeda. Kita tunggu saja, sejauh mana persaingan politik gender ini akan memainkan peran sentral dalam mengubah peta percaturan politik daerah di  Pilkada Jatim 2018.

Abd. Hannan

Abd. Hannan

Magister Sosiologi, lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Email: hannan.taufiqi@gmail.com.