Pilgub Jatim dan Kemungkinan-kemungkinannya

Kepastian pasangan calon dalam Pilgub Jatim 2018 sudah final sejak KPU Jatim menutup pendaftaran cagub-cawagub pada Rabu (10/1) kemarin.

Hanya ada dua pasangan calon, Gus Ipul-Puti Guntur dan Khofifah-Emil, Puti merupakan cucu Bung Karno yang menggantikan Azwar Anas setelah mengundurkan diri sebagai Cawagub Gus Ipul pada kontestasi Pilgub Jatim.

Puti membuka peta baru dalam Pilgub Jatim, peluang nasionalis, terutama dari luar kelompok mayoritas, baik dalam konteks ormas Islam ataupun agama secara umum. Kaum nasionalis selama ini dinilai lebih netral dalam soal narasi politik berkaitan dengan identitas agama. Kalau benar logika ini berpengaruh, maka kemungkinan bakal menjatuhkan plihannya pada Puti bersama Cagub Gus Ipul.

Hanya politik itu sulit dicerna. Jalannya sangat dinamis. Sebab mungkin dukungan juga bakal jatuh pada pasangan Khofifah-Emil, dengan andaian bahwa kelompok NU selama ini dapat merangkul keragaman dengan sangat baik, termasuk mereka yang dari luar Islam sekalipun.

Persoalannya Gus Ipul juga tokoh NU, didukung oleh kiai-kiai NU pula. Terasa sangat sulit membayangkan peta Pilgub Jatim. Sebab kata banyak orang, di Jatim tinggal meremmenutup mata—saja pilihannya pasti jatuh pada yang terbaik. Ini berkah bagi masyarakat Jatim, stok figur pemimpin kita banyak yang berkualitas.

Satu hal lagi, awalnya saya membayangkan permainan doktrin tentang kepemimpinan perempuan dalam Islam bakal dihadirkan kembali untuk menjatuhkan Khofifah, namun nyatanya sekarang, Puti Guntur, Cawagub Gus Ipul juga perempuan. Ini menjadi penanda elit politik dan publik Jatim yang memberikan sokongan telah semakin dewasa dalam beragama dan berpolitik.

Karenanya, demokrasi yang dipentaskan di Jatim harus menghadirkan ruang kegembiraan. Politik harus kembali kepada jangkarnya sebagai jalan bersama untuk beradab. Jatim sangat mungkin menghadirkan hal tersebut, melihat figur calon yang sudah mendaftar ke KPU merupakan pemimpin dengan regam jejak yang baik.

Meski saya tak menafikan, bakal hadir gesekan-gesekan antarpendukung, yang bisa membuat ruang publik kita semakin ramai. Namun hal itu harus dimaknai sebagai dinamika politik yang wajar, karena pemilu adalah kontestasi berebut suara rakyat. Yang perlu diperhatikan adalah cara-cara berebut suara harus mencerminkan kesantunan sebagai identitas religius masyarakat Jatim.

Siapapun calonnya, pilgub memungkinkan kemenangan dan kekalahan. Kalau takut kalah, lebih baik mengalah—jangan maju dalam Pilgub Jatim. Kalau berani menang, harus bertarung—memperebutkan suara dalam Pilgub Jatim.

Itu sudah kodrat politik ekeltoral.

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.