Pilpres, Siapa Menang?

Babak baru kontestasi Pilpres 2019 sudah dimulai. Debat Pilpres minggu lalu, menjadi ronde pertama pertarungan gagasan para Capres-Cawapres. Publik secara terbuka menyaksikan adu gagasan Jokowi – Ma’ruf dan Prabowo – Sandi. Meski kata banyak orang, membosankan dan kurang menarik, debat Pilpres kemarin tetap menjadi cara publik menilai gagasan keduanya dalam membayangkan Indonesia masa depan. Setidak-tidaknya Indonesia yang mereka berdua bayangkan selama lima tahun ke depan.

Debat Pilres menyisakan banyak ketegangan. Antar pendukung keduanya, saling memuji kandidatnya sembari menjungkalkan lawan dengan beragam bentuk cacian, yang sesungguhnya tak elok ditampilkan di ruang publik. Dari pertarungan gagasan, berujung pada pertarungan cacian, yang disebar sedemikian rupa disertai sejumlah like yang bertubi-tubi. Belakangan bangsa kita memang terperosok pada jurang politik kedua figur, kalau tidak Jokowi pasti Prabowo, kalau tidak cebong pasti kampret.

Serangkaian tausiyah, himbauan, dan saran untuk menjaga keutuhan bangsa, terus saja hadir, bak angin yang tak ada habisnya berlalu-lalang dalam kehidupan kita. Namun tetap saja, ruang publik kita selalu riuh dengan bentuk pujian atau cacian antara pendukung Jokowi dan Prabowo. Seolah-olah republik ini hanya miliki Jokowi atau Prabowo.

Sementara, dalam pertarungan Pilpres, yang hendak dimenangkan sesungguhnya bukan Jokowi atau Prabowo, tapi rakyat Indonesia. Kemenangan rakyat harus dipentaskan dalam ruang-ruang publik kita. Indonesia bukan tentang Jokowi atau Prabowo, tapi tentang rakyat yang memproklamasikan kemerdekaannya 73 tahun lalu, yang sampai sekarang terus tertatih-tatih memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan, atas segenap hal dalam hidupnya.

Founding fathers membangun republik ini, sejak awal hendak memenangkan rakyat Indonesia. Bukan kemenangan segelintir orang, apalagi hanya tentang Jokowi atau Prabowo. Mereka berdua hanya bagian dari putra-putra terbaik bangsa, yang kebetulan bernasib baik, dipilih oleh koalisi partainya untuk meramaikan kontestasi Pilpres 2019. Kalaupun keduanya esok dipensiunkan oleh partai dari kontestasi Pilpres, tak berarti riwayat tentang Indonesia telah berakhir. Lalu bakal ke mana para cebong dan kampret? Tentu, mereka akan mencari muara lain dari perjuangan dan dukungan politiknya.

Artinya, Indonesia tidak berakhir di Jokowi atau Prabowo. Masa depan kita sebagai bangsa masih sangat panjang. Sepanjang angan yang tak terbatas!

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.