Politik dan Hal-hal yang Tak Pernah Selesai

Politik sesungguhnya hadir untuk kebajikan publik (public virtue).

Hanya, ketika politik berkelindan dengan kekuasaan, segalanya menjadi abu-abu, samar-samar, dan remang-remang, setiap orang saling menjilat dan menggigit.

Jilatan politik menghadirkan kesenangan yang tak biasa. Dalam sekejap bisa kaya-raya. Begitupun, gigitan politik menanggalkan luka yang sangat dalam. Sulit dicarikan obatnya.

Lebih dari itu, gigitan politik tak hanya menanggalkan luka pada satu atau dua orang, namun banyak orang bisa mengalami luka gigitan yang dahsyat. Sebab ketika politik berkelindan dengan kekuasaan, wilayahnya menjadi besar.

Petaka terbesar dalam politik nasional kita adalah korupsi. Bahasa Lord Acton mengekalkan realitas politik kekuasaan yang berkembang di sekitar kita. Kekuasaan memang selalu meninggalkan luka. Sebab kekuasaan mencipta kerakusan, dan kerakusan merusak yang lain.

Sayang, pengandaikan Thomas Hobbes, tak seluruhnya benar. Hukum yang dihadirkan dalam negara, ternyata tak menakutkan elit politik. Betapapun sudah banyak yang diringkus KPK, politisi tak pernah jera korupsi.

Apa yang sesungguhnya dicari dalam politik, sehingga urusan yang satu ini tak pernah selesai?

Kalau kita mencermati, berita yang selalu heboh adalah urusan politik. Maka, hal-hal yang tak pernah selesai dalam politik, sesunggunya adalah nasib orang banyak bertempur melawan orang sedikit.

Politik selalu menjadi perhatian publik, karena di dalamnya menggantung nasib banyak orang.

Politik yang tak etis, bakal menghadirkan tangis.

Pada tahun 2018 ini, politik bakal dipentaskan besar-besaran. Akan ada banyak pesta-pesta demokrasi, yang di sekelilingnya bertabur segala kesenangan material. Dari uang, sembako, baju, celana, sarung, songkok, dan segalanya, yang memungkinkan pemilih tergiur menikmati kegenitan demokrasi yang sedang kita jalankan.

Lalu, setelah pesta demokrasi usai, urusan politik selesai?

Tidak. Politik tidak akan pernah selesai, sampai kapan dan di mana pun.

Selama politik menghadirkan kekuasaan, di dalamnya pasti ada ruang abu-abu, samar-samar, dan remang-remang, tempat setiap pelaku politik saling menjilat dan menggigit.

Politik tak akan pernah suci. Pengandaikan kita tentang kebajikan publik dalam politik, sesunguhnya adalah harapan ilusif.

Politik menjadi suci, kalau manusia menjadi malaikat.

Kita hanya bisa bekerja, membersihkan hal-hal yang tak suci, meski tak keseluruhan. Sehingga walau sedikit, politik dapat kita nikmati.

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.