Potret Pendidikan Karakter Pesantren

Pendidikan merupakan salah satu pembahasan penting di dalam al-Qur’an. Maka, sangatlah relevan jika wahyu yang pertama kali Allah SWT. turunkan kepada Muhammad SAW. ialah Surah al-‘Alaq, yakni perintah membaca. Selain itu, tentu masih banyak ayat lain tentang pendidikan.

Sayangnya, tingkat pendidikan nasional kita masih tergolong rendah. Survei United Nations Development Programme (UNDP) pada 2016 yang lalu, menyebutkan indeks pendidikan Indonesia 0,492 masih di bawah Thailand (0,538), Jepang (0,675), dan juga AS (0,850). Begitupun, Indonesia menduduki posisi akhir dari 40 negara dalam data The Learning Curve 2013, Pearson.

Padahal pendidikan menjadi  faktor penentu pembangunan karakter bangsa. Lagi-lagi kita mengelus dada jika menilik data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) saban tahunnya. Data kasus pelanggaran anak mencapai 5.006 (2014), 4.309 (2015), dan 4.620 (2016). Bahkan khusus kasus pornografi terhadap anak (2016) sampai menyentuh angka 587 kasus.

Oleh karena itu, kehadiran pendidikan karakter tentu sangat penting dalam mengatasi berbagai problematika bangsa. Bahkan, Islam mengajarkan karakter menjadi orientasi utama Rasulullah SAW. dalam berdakwah. Dalam HR. Abu Hurairah dan Anas Ibnu Malik, Rasullah bersabda, innama bu’itstu li utammima makarimal akhlaq, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (karakter).

Persoalannya kemudian, apakah model pendidikan karakter yang diterapkan di negeri ini sudah cukup signifikan belum dalam mengatasi persoalan bangsa? Memang, pendidikan karakter yang digagas pemerintah tentu sudah melalui kajian matang. Namun demikian, filosofi, model, muatan isi, instrumen, lebih-lebih implementasinya hingga kini masih jauh antara tungku dan bara apinya.

Beberapa problem konseptual-praktikal kebijakan pendidikan karakter tentu perlu pembenahan. Alih-alih membenahi, malah justru kebijakan full day school menuai polemik. Sepertinya pemangku kebijakan pendidikan perlu belajar dari model pembinaan karakter yang ada di pesantren.

Jika membuka lembaran kitab dasar akhlak yang populer di pesantren, yakni Akhlaq lil-Banin atau Lil Banat, akan disuguhi adab-adab praktis yang demikian banyak. Syaikh Umar bin Ahmad Barja, penulis kitab tersebut membagi akhlak menjadi dua, yaitu akhlaq al-hasanah (terpuji) dan akhlaq al-sayyi’ah (tercela). Manusia dianjurkan menjauhi akhlaq al-sayyi’ah dan menghiasi diri dengan akhlaq al-hasanah melalui proses pendidikan karakter.

Begitupun, jika membuka kitab Ta’lim al-Muta’lim karangan Imam al-Zanrnuji. Dalam kitab ini disebutkan akhlak yang harus dimiliki pencari ilmu, pertama akhlak kepada Allah SWT., yaitu  senantiasa mengharap rida Allah SWT., bersyukur, dan wara’. Kedua, akhlak kepada orang tua, untuk selalu patuh dan hormat. Ketiga, akhlak kepada guru, selalu sopan dan menghargainya. Keempat, akhlak pada teman dalam bergaul. Kelima, ialah akhlak kepada dirinya sendiri, memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani.

Adapun contoh praksis pendidikan karakter, seperti yang diterapkan di Pesantren Aswaja Nusantara, Mlangi, Yogyakarta. Pesantren ini, paling tidak merumuskan 4 karakter dasar dengan 10 nilai utama. Pilihan tersebut dalam bahasa filsafat, lebih merupakan optius fundamentalis, yaitu pilihan dasar yang dianggap penting menjawab problem bangsa saat ini.

Empat karakter dasar tersebut yakni ‘adil, tawasut, tawazun, dan tasamuh. Adapun sepuluh nilai dasar meliputi tauhid, adil, amanah, jujur, khidmah (pengabdian), zuhud, al-wafa, tawakal, ukhuwah, uswatun khasanah (teladan baik), dan tawadhu (Mustafied, dkk, 2013). Berbagai konsep-praktikal pendidikan karakter ini tentu bisa menjadi inspirasi dalam meramu model pendidikan nasional.

Suwanto Awan

Suwanto Awan

Analis pendidikan pada Universitas Negeri Yogyakarta. Email: awanayip@gmail.com.