Rekonsiliasi Islam di Eropa: Refleksi Film AAC 2 (1)

Film religi mendapat sambutan baik dari publik kita. Yang terbaru, Ayat-Ayat Cinta (AAC) 2. Film berlatar Eropa tersebut telah ditonton lebih dari 2 juta orang.

Selain AAC 2, ada beberapa film Indonesia bergenre religi yang juga mengambil plot di daratan Eropa. Misalnya film berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa, yang mencoba untuk menelusuri fakta kejayaan Islam di Eropa. Kali ini, AAC 2 berkisah tentang sinisme masyarakat Eropa, khususnya warga negara Skotlandia terhadap Islam.

Rentetan tragedi kemanusiaan yang kerap kali terjadi di bumi Eropa, seperti peristiwa bom London pada tahun 2005, yang menewaskan 56 orang dan menyebabkan setidaknya 700 orang lainnya luka-luka, menghadirkan sinisme tersendiri terhadap Islam, yang selalu dipojokkan sebagai agama teroris, hingga pemojokan terhadap simbol-simbol Islam pun kerap terjadi sampai saat ini.

Dalam film tersebut, Fahri bin Abdullah (Fedi Nuril) mencoba menghadirkan nuansa baru dari Islam. Ia mengusung kehidupan Islam moderat di tengah masyarakat Eropa yang plural. Baik dari segi agama ataupun kultur masyarakat setempat.

Singkat cerita, Fahri yang hidup dengan asistennya asal Turki, Paman Hulusi (Pandji Pragiwaksono), dan sahabat lamanya, Misbah (Arie Untung). Dari malam ke malam selalu mendapatkan teror umpatan dengan kata “evil”, “monster”, dan sebagainya dari tetangganya, Keira (Chelsea Islan) serta Jason (Cole Gribble).

Bukan tanpa sebab, setelah ditelusuri kedua tetangganya tersebut ternyata merupakan anak dari salah satu korban bom London. Kehidupannya hampir mengalami broken home pasca kematian ayahnya di tragedi itu, sehingga menimbulkan stigma tersendiri bagi keduanya bahwa Islam adalah agama teroris.

Terorisme sendiri merupakan buah dari sikap radikal atas pemahaman fundamentalistik yang ada dalam setiap agama, termasuk Islam itu sendiri.

Ahmad Syafi’i Ma’arif (2013) berpandangan bahwa radikalisme lebih terkait dengan problem intern keberagamaan seseorang, sedangkan terorisme merupakan fenomena global dengan tujuan politis yang memerlukan tindakan global pula. Namun radikalisme kadang kala bisa berubah menjadi terorisme.

Problem radikalisme, khususnya terorisme dewasa ini menjadi perhatian umat manusia di seluruh dunia. Hal ini bukan tanpa sebab, tindakan terorisme memang melanda berbagai negara, termasuk yang pernah terjadi di Eropa, Prancis, beberapa waktu lalu. Selain itu, tindakan terorisme tidak bisa dibenarkan dalam setiap agama apapun.

Di dalam agama Islam sendiri, tindakan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa sangat tidak dibenarkan. Bahkan Allah SWT. memberikan perumpamaan bahwa orang yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh manusia yang lain ataupun membuat kerusakan di bumi, ibarat dia membunuh manusia seisi bumi (Baca: QS. Al-Maidah ayat 32). Bahkan Islam menggolongkan pembunuhan sebagai dosa besar setelah syirik (Baca: HR. Bukhari dan Muslim).

Kita bisa membayangkan bagaimana masa depan kehidupan seseorang bila orang tuanya terbunuh akibat tindakan teror. Sedangkan orang tua tersebut menjadi harapan satu-satunya bagi anak-anaknya.  (Bersambung)

Mukhammad Ichwanul Arifin

Mukhammad Ichwanul Arifin

Pengkaji tasawuf, lulusan Akidah dan Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: ichwan.ungu@yahoo.co.id.