Rekonsiliasi Islam di Eropa: Refleksi Film AAC 2 (2)

Selama ini agama Islam memang selalu mendapat stigma buruk dari masyarakat Eropa. Dalam pandangan masyarakat setempat, Islam selalu disebut sebagai agama teroris, agama yang penuh dengan kebengisan. Dari sanalah Fahri mencoba menghadirkan pandangan berbeda tentang wajah Islam.

Dalam sebuah debat ilmiah, mengutip pendapat dari ulama kontemporer, Syaikh Badiuzzaman Said Nursi, Fahri mengatakan: “Yang patut kita cintai adalah cinta itu sendiri, sedangkan yang patut kita musuhi adalah permusuhan itu sendiri”.

Apa yang dikatakan Fahri tidak hanya sebatas ucapan, dia benar-benar merealisasikan dalam bentuk tindakan nyata kepada masyarakat sekitar, di tengah umpatan yang selalu dia dapatkan. Fahri selalu menolong tetangganya yang kesusahan meskipun mereka berbeda agama dan orang-orang tersebut membenci dirinya sebab agama yang dianut. Toh, untuk menolong orang lain tidak perlu bertanya apa agamamu kan.

Sikap Fahri yang moderat lambat laun mengubah pandangan orang-orang di sekitarnya. Nenek Caterine (Dewi Irawan) yang beragama Yahudi serta mempunyai masalah dengan anak tirinya selalu saja dia tolong meskipun oleh orang seagamanya dikatakan Amalek. Hingga pada suatu waktu nenek Caterina menganggap Fahri sebagai anaknya sendiri, sebab pertolongan yang diberikan Fahri di luar akal sehatnya.

Berbeda dengan Jason dan Keira yang kehilangan harapan setelah ayahnya tewas dalam tragedi bom London. Fahri membantu mereka berdua untuk meraih cita-citanya. Khusus untuk Keira, Fahri membantunya secara diam-diam dengan memanggil guru biola.

Beberapa hari berlalu, Keira telah menjadi seorang violin yang mampu menggesek senar biola dengan sangat indah. Bahkan, Keira menjadi maestro di dunia biola. Tetapi Keira masih belum mengetahui sosok yang membantunya memanggil guru biola secara gratis.

Setelah Keira mengetahui bahwa Fahri yang selama ini membantunya menjadi maestro, seketika mengubah pandangannya tentang Fahri begitu juga tentang Islam. Dia menyadari bahwa pandangannya selama ini keliru. Bahwa Islam sebenarnya tidak seperti yang dituduhkan oleh mayoritas masyarakat Eropa yang lain.

Kita bisa mencermati bagaimana Fahri dapat mengubah pandangan orang-orang di sekitarnya tentang Islam yang selama ini citranya dirusak dengan aksi-aksi yang tidak berperikemanusiaan. Bahkan aksi-aksi yang tak elok tersebut dilakukan dengan dalih atas nama Tuhan.

Sayangnya, film yang mengadaptasi novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul yang sama tersebut tidak menggambarkan secara utuh bagaimana rentetan peristiwa setelah Fahri menolong mereka semua.

Di dalam novel digambarkan tentang Jason yang akhirnya menjadi Muallaf setelah Fahri menolongnya untuk menjadi pemain profesional dalam sepak bola. Juga di dalam debat ilmiah, Fahri digambarkan sebagai seorang yang ahli di dalam bidang teologi dan perbandingan agama.

Tetapi itulah film, hanya diambil adegan-adegan yang menjual.

Mukhammad Ichwanul Arifin

Mukhammad Ichwanul Arifin

Pengkaji tasawuf, lulusan Akidah dan Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: ichwan.ungu@yahoo.co.id.