Relevansi Metode Pendidikan Taman Siswa

Taman Siswa seperti kembali ke dalam ruang gelap sejarah. Taman Siswa kemudian menjadi semacam “artefak” pendidikan di Indonesia. Orang mulai melupakan dan menggantinya dengan berbagai konsep pendidikan ala Barat.

Di tahun 1922 sampai pertengahan 1950-an, Taman Siswa mampu mewarnai pendidikan di Indonesia. Di masa sebelum kemerdekaan, Taman Siswa menjadi pelopor pendidikan yang bersifat nasionalis. Watak anti kolonialisme yang melekat di dalam diri Ki Hajar Dewantara meresap pula ke dalam model pendidikan Taman Siswa yang merdeka, anti kolonialisme, dan mandiri.

Pada masa itu, Taman Siswa adalah salah satu sekolah yang tak mau menerima bantuan pemerintah kolonial. Tidak seperti sekolah Muhammadiyah dan sekolah lain yang menerima bantuan pendidikan.

Taman siswa menerapkan konsep berdikari sebagai manajemen sekolah dan pengaturan kelembagaan. Maka tak heran di masa lalu, banyak guru-guru Taman Siswa memang rela digaji seadanya, gotong royong untuk melanjutkan misi nasionalisme kebudayaan di Taman Siswa.

Sari Swara menjadi metode yang dipakai dalam pengajaran di sekolah Taman Siswa. Dengan demikian, anak-anak belajar melalui lagu, musik, serta kesenian daerah. Melalui itu, anak-anak semakin bisa memaknai kebudayaannya sendiri serta menghayatinya.

Metode yang lain adalah metode Among System. Muchammad Tauhid (1963) pernah menulis di dalam buku Perdjuangan dan Adjaran Hidup Ki Hadjar Dewantara, bahwa metode Among terdiri dari enam hal.

Pertama, pamong (guru) memberi contoh yang baik kepada peserta didiknya. Kedua, pembiasaan. Setiap peserta didik dibiasakan untuk melaksanakan kewajibannya sebagai pelajar, sebagai anggota komunitas, maupun masyarakat.

Ketiga, pengajaran. Guru memberikan pengajaran untuk menambah pengetahuan peserta didik sehingga mereka menjadi generasi yang cerdas, pintar, benar, dan bermoral baik. Keempat, perintah, paksaan, dan hukuman. Hal tersebut diberikan kepada peserta didik apabila dipandang perlu.

Kelima, laku (perilaku). Hal itu berkaitan dengan sikap rendah hati, jujur, dan taat pada peraturan yang terekspresi dalam perkataan dan tindakan. Keenam, pengalaman lahir dan batin. Artinya pengalaman kehidupan sehari-hari diresapi dan direfleksikan sehingga mencapai tatanan “rasa” dan menjadi kekayaan serta sumber inspirasi untuk menata kehidupan yang membahagiakan diri dan sesama (Samho, 2013:79).

Di antara semua metode tersebut di atas, Ki Hajar menekankan penolakan yang sungguh-sungguh terhadap pendidikan yang berwatak intelektualistis. Ki Hajar lebih menekankan pendidikan yang seirama dengan kebudayaan.

Siswa dididik untuk menjadi manusia yang menyelaraskan lahir dan batinnya dengan alam serta kebudayaannya. Sehingga mereka kelak menjadi manusia yang bermanfaat, serta berguna bagi sesama. Di samping itu, mereka tak melupakan budi pekerti serta akhlak dan adab yang berkembang di masyarakatnya.

Bila melihat pendidikan kita saat ini, sebenarnya metode pendidikan Ki Hajar sampai sekarang masih relevan. Terlebih di masa krisis keluarga yang kian kentara. Hubungan keluarga yang kurang harmonis, sampai pada persoalan keluarga dalam mendidik anak-anaknya.

Sistem pendidikan bermodel pondok atau asrama yang disarankan Ki Hajar memang banyak menjadi pilihan orang tua kita di masa sekarang.

Sistem pondok atau asrama ini memang diharapkan dapat mengeratkan hubungan antara murid dengan guru. Dapat saling asih, asah dan asuh, serta saling memberi teladan dan kasih sayang. Pendidikan model asrama ini tepat untuk anak-anak remaja kita. Bukan seperti yang selama ini terjadi, di pendidikan dasar saja sudah berkembang model sekolah pondok atau asrama.

Meskipun secara kelembagaan Taman Siswa sudah tak ada lagi, pemerintah bisa menghidupkan kembali sejarah, serta konsep-konsep pendidikan yang dikembangkan oleh Ki Hajar. Bahkan semenjak taman kanak-kanak, konsep pendidikan yang menggembirakan, menyenangkan, dan tetap berbudaya pernah ditulis oleh Ki Hajar di dalam bukunya, Taman Indriya (1959).

Kita patut menyayangkan ketika kurikulum, metode, serta model pendidikan Ki Hajar justru dipakai dan digunakan di Finlandia, yang konon dinilai sebagai negara dengan tingkat pendidikan terbaik di dunia.

Arif Yudistira

Arif Yudistira

Pendidik di SMK Kesehatan Citra Medika, pernah mengajar di MIM PK Kartasura. Email: arif_love_cinta@yahoo.co.id