Ruang Komunal Agama

Agama senyatanya merupakan ruang komunal. Ada pertalian yang tak terbatas antar sesama penganut agama, yang memungkinkan terbentuknya jejaring komunal. Islam misalnya, sebagai agama mayoritas di negeri ini, sejak awal kehadirannya membawa misi kerahmatan bagi semesta—rahmatal lil’alamin (QS. al-Anbiya’: 107). Itu artinya, kehadiran Islam menghendaki terciptanya rahmat di atas bumi, guna meneguhkan otentisitas makna dari Islam itu sendiri yang berarti kedamaian.

Karenanya, dalam perjalananya Islam selalu masuk ke dalam ruang komunal. Setidak-tidaknya, selalu terbuka ruang dakwah ajaran Islam, yang berisi ajakan untuk menjadi Muslim seutuhnya (kaffah) dan atau seruan menjadi penganut ajaran Islam (muallaf). Kenyataan ini sesungguhnya tak saja terjadi di Islam. Agama apapun selalu mengandaikan seluruh umat manusia memiliki konsepsi yang sama tentang keimanan dalam beragama. Hanya, pluralitas keyakinan dan agama sulit terhindarkan. Akibatnya, agama selalu mendua, mentiga, dan seterusnya. Kebenaran agama selalu ganda mengikuti subjektivitas pikiran dan hati masing-masing personal.

Tak mengherankan kalau kemudian kesalahan tulis ayat Alquran pada salah satu program dakwah stasiun telivisi nasional yang dibawakan oleh ustazah selebriti beberapa hari lalu membuat geger ruang komunal. Ada kesalahan fatal pada penulisan Surah al-‘Ankabut ayat 45. Kenyataan ini menandai kalau sesungguhnya agama merupakan ruang komunal. Ada pertalian tak terbatas antar sesama penganut agama, yang memungkinkan terjadinya interaksi. Bahkan pada batas-batas tertentu, ruang komunal ini justru menjadi ladang konflik antar penganut agama yang sama sekalipun.

Keriuahan publik tentang salah tulis ayat Alquran tersebut, tak lepas dari tendensi politik identitas kelompok-kelompok keagamaan Islam di Indonesia. Dakwah keislaman yang banyak dipertontonkan oleh para ustaz ataupun ustazah di televisi, secara politis banyak merugikan kelompok Islam tertentu, terutama Islam tradisional-moderat, yang sesungguhnya banyak menyokong terbentuk narasi inklusivitas Islam di Indonesia. Karenanya, tak heran ketika ada salah satu ustaz atau ustazah selebriti, yang paham agama hanya sebatas dimensi syariatnya—itu pun kadang hanya belajar dari buku ataupun kitab terjemahan, kemudian melakukan kesalahan fatal, digebuki ramai-ramai di media sosial.

Kenyataan di atas patut menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam Indonesia, terutama para ustaz ataupun ustazah yang banyak manggung di televisi. Ketakpahaman pada sumber utama dari ajaran Islam, Alquran dan hadis, baik dari sisi tulisan ataupun maknanya, merupakan petaka besar bagi dakwah keislaman di Indonesia. Pendakwah adalah mereka yang secara keilmuan memiliki pembendaharaan materi keislaman yang luas, serta mampu mengimplementasikan ajaran Islam secara konkret dalam praktik kehidupan sehari-hari. Keteladanan—praktik—menjadi sangat penting, karena Islam adalah nilai. Suatu nilai memiliki makna ketika nilai itu dipraktikkan secara aktual dalam kehidupan sosial. Pemahaman tentang nilai-nilai Islam, tentu berangkat dari pemahaman epistemologis yang benar. Kalau soal teks saja salah tulis, lalu tidak heran kalau publik ramai-ramai bertanya, apalagi materi dari pengajiannya, tentu patut diragukan. 

Ruang Personal
Industri media memungkinkan ruang komunal kita dilalap habis. Televisi sebagai media paling banyak digemari, karena secara visual bisa menghadirkan gambar dan suara yang bergerak, memungkinkan agama yang memiliki misi ruang komunal (rahmatal lil ‘alamain) menjadi garapan pengelola media. Tak heran, kehadiran ustaz dan ustazah selebriti menjamur lewat industri media televisi. Belum lagi saluran channel di YouTube memungkinkan publik secara leluasa menampilkan visualisasi ceramah agama tak terbatas waktu dan tempat. Secara suka-suka publik dengan sangat mudah mengakses ceramah agama, yang kadang tanpa didasari sikap kritis akibat kedangkalan ilmu agama yang dimilikinya.

Di sinilah penting, mendudukkan ruang personal agama. Agama apapun, termasuk Islam, memungkinkan terbentuknya ruang personal dari agama. Meski agama diajarkan dan didakwahkan di ruang komunal, pemahaman yang sampai pada masing-masing personal merupakan interpretasi individual. Seberapapun kita berusaha menyamakan frekuensi pemahaman, bias personal dari tafsir pemahaman hingga praktik nilai keagamaan menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Sehingga agama sekalipun memiliki misi yang berkutat di ruang komunal, akhirnya tetap bermuara ke ruang personal. Karena itu, menguatkan pemahaman personal penganut agama merupakan jalan terbaik bagi hadirnya pemahaman dan praktik keagamaan yang berlandaskan pada nilai-nilai kemanusian universal.

Ruang personal agama, meminjam istilah Hassan Hanafi tentang keimanan, merupakan proyeksi personal tentang hidup yang berusaha masuk ke dalam narasi besar kitab suci. Karenanya, pengandaikan konteks dalam beragama meniscayakan hadirnya keterbukaan pikiran terhadap kenyataan terbaru dan kemungkinkan-kemungkinannya yang terus berubah.

Beragama berarti memasuki ruang komunal yang mempersonal lewat pemahaman interpretasi yang subjektif. Kenyataan aktual dari pemahaman itu dapat dilihat dari cara bertindak setiap penganut agama. Ada yang beragama secara inklusif, memberikan kemungkinan-kemungkinan pemahaman dan tafsir yang berbeda, namun ada yang eksklusif, yang tak memberikan kemungkinan-kemungkinan pemahaman dan tafsir yang berbeda. Eksklusivitas pehamanan dan tafsir keagamaan sangat berbahaya dalam ruang komunal yang sangat plural seperti Indonesia.

Mungkin selebrasi agama yang  banyak dipertontokan para ustaz atau ustazah di televisi mudah digebuki publik, karena materi ceramahnya kadang mendustai keragaman besar ruang komunal di Indonesia. Sedikit-sedikit menyalahkan pemahaman orang, sering menyesatkan, bahkan hingga pengkafiran. Dan ternyataa, dakwah keislaman yang kerap dipertontonkan di tevilisi tak didasari oleh pemahaman agama yang baik, untuk sekadar mengutip ayat Alquran saja salah tulis. Tak hayal kalau publik bertanya, apalagi materi ceramahnya? (Sumber: Masduri, Duta Masyrakat, 3 Januari 2018).

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.