Semua Murid Semua Guru

Judul tulisan ini diambil dari tulisan menarik karya Amelia Sewaka di haibunda.com dengan judul “Semua Murid Semua Guru, Gerakan untuk Perubahan Pendidikan” tanggal 24 Desember 2017. Dalam ulasannya Sewaka menuturkan pentingnya peran orang tua dalam mengangkat harkat dan martabat pendidikan Indonesia yang menurutnya sedang terpuruk dan tertinggal dengan negara-negara lain.

Misalnya Sewaka menyampaikan Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara dalam hal penguasaan literasi. Peringkat 113 dari 188 negara dalam hal indeks pembangunan manusia. Belum lagi perilaku manusia yang memanfaatkan dana pendidikan untuk dikorupsi. Ada sekitar 425 kasus korupsi pendidikan dari tahun 2005 hingga 2016 yang mengakibatkan kerugian negara lebih dari triliunan rupiah. Kondisi mengkhawatirkan inilah yang menyembabkan kualitas pendidikan Indonesia rendah.

Sejatinya apa yang ditulis oleh Sewaka adalah semangat perubahan. Kita tidak boleh menutup mata dan hati akan kondisi pendidikan Indonesia. Entah disadari atau tidak data di lapangan menyebutkan kondisi demikian, yang meskipun kalau head to head antara orang Indonesia dengan orang-orang dari negara-negara yang berada di atas rangking Indonesia belum tentu kita kalah.

Jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak dengan sebaran yang sangat luas di lebih dari 10 ribu pulau mengakibatkan capaian persentasenya selalu rendah dibanding dengan negara-negara lain. Artinya Indonesia sebenarnya mempunyai peluang untuk menjadi negara yang bisa melebihi negara-negara lain jika urusan pendidikan ini lebih baik lagi dari yang ada saat ini.

Gerakan semua murid semua guru yang dicetuskan oleh komunitas ini patut diapresiasi. Jika semua orang tua peduli terhadap kondisi para murid yang bukan saja putranya sendiri, akan muncul kepedulian dan kesadaran bahwa pendidikan bukan saja menjadi tanggungjawab guru, kepala sekolah, dan pemerintah tetapi menjadi tanggug jawab semua. Mulai dari orang tua sampai pada pegiat pendidikan.

Jika saat ini sudah ada komite sekolah yang melibatkan sebagian orang tua maka gerakan ini bisa diperluas jangkauannya. Seperti yang disampaikan di tulisan tersebut bahwa gerakan ini bergerak di bidang pendidikan dengan kolaborasi dari beberapa organisasi yang dibuat agar masyarakat luas lebih tahu soal bagaimana cara anak mendapat pendidikan yang lebih baik.

Komunitas orang tua yang sudah ada saat ini tidak hanya dimanfaatkan untuk memudahkan iuran sekolah saja, tetapi menjadi media komunikasi antar orang tua untuk turut serta memikirkan pendidikan. Jika perlu sekali waktu para orang tua diajak ke kelas untuk mengajar sesuai dengan bidang kemampuan dan keahlian yang dimilikinya. Hal ini sudah dilaukan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa.

Jika kesadaran ini terbentuk maka tidak menutup kemungkinan perubahan pendidikan yang lebih baik akan tercapai. Semangat perubahan mental yang dihembuskan oleh pemerintah saat ini sangat erat kaitannya dengan semangat yang muncul dari masyarakat. Karenanya, gerakan ini harus disambut baik oleh pemerintah. Mari kita akui bahwa setiap diri dari kita adalah guru dan sekaligus murid.

Muhammad Yunus

Muhammad Yunus

Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang.