Simpang Siur Berita di Era Post-Truth

Di zaman ini, kita semakin tidak bisa lepas dari media sosial. Dahulu warung-warung kopi masih banyak yang menyediakan koran untuk dibaca bergantian para pelanggannya. Berita pagi hari itu dibicarakan bersama secangkir kopi, rokok, dan gorengan. Sekarang agaknya warung kopi yang berlangganan koran sudah berkurang, mereka memilih berlomba-lomba memasang wifi untuk menarik pelanggannya.

Perubahan ini menyesuaikan kondisi masyarakat kita yang tidak bisa terlepas dari kegiatan berselancar di dunia maya. Orang lebih banyak mengetahui sebuah peristiwa terkini bukan dari situs berita apalagi Koran cetak, tetapi dari feed Instragram, timeline  Facebook, cuitan dengan hashtag teratas di Twitter, pesan berantai di grup Whatsapp atau  video top trending Youtube.

Beragam informasi yang tumpah ruah di media sosial, membuat kita sulit memutuskan mana yang benar-benar valid atau sebatas berita bohong (hoax) semata. Menjadi ironis, ketika saat ini kita berada pada era di mana suatu informasi semakin banyak dibicarakan dan diamplifikasi oleh media sosial, maka semakin menjadi fakta “abu-abu” yang kian dipercaya banyak orang. Hal inilah yang dikenal dengan istilah post-truth. Istilah ini memang bukan barang baru, kamus Oxford bahkan menempatkan kata post-truth sebagai “Word of The Year” pada tahun 2016, karena kata tersebut begitu banyak digunakan oleh umat manusia.

Orang pertama yang menggunakan istilah post-truth adalah Steve Tesich, pada artikelnya The Gorvernment of Lies dalam majalah The Nation yang terbit 6 Januari 1992. Skandal Watergate Amerika (1972-1974) maupun Perang Teluk Persia ia gunakan sebagai latar belakang untuk menunjukkan situasi masyarakat pada saat itu yang tampaknya “nyaman” hidup dalam dunia yang penuh kebohongan.

Era post-truth  adalah keadaan di mana berita bohong menjadi bagian dari sendi-sendi kehidupan sosial. Manusia semakin sulit melihat dengan jelas fakta yang sebenarnya. Era ini banyak dimanfaatkan oleh mereka yang berkepentingan mengaduk-aduk emosi masyarakat, untuk mendapatkan dukungan terhadap sikap tertentu.

Contoh teranyar yang menjadi perhatian kita bersama adalah peristiwa bulan September lalu, berupa demonstrasi penelokan mahasiswa terhadap banyak RUU yang rencananya bakal disahkan. Berita-berita yang menyertai aksi tersebut muncul di media sosial, memecah masyarakat  menjadi dua kubu, pro dan kontra terhadap aksi tersebut.

Mereka yang pro beranggapan bahwa aksi ini murni penolakan RUU yang tidak mengakomodasi kepentingan masyarakat. Diikuti dengan narasi bahwa gerakan ini di dudukung oleh masyarkat dengan adanya penggalangan dana lewat crowdfunding, foto yang beredar di media sosial bagaimana penjual buah membagikan dagangannya pada mahasiswa yang sedang melakukan aksi, pun mereka yang menyediakan air untuk menghilangkan efek gas air mata.

Mereka yang kontra mempercayai narasi bahwa aksi ini ditunggangi oleh kepentingan tertentu. Media sosial menyuarakan adanya kerusuhan yang disengaja, ambulan membawa batu, dan tangkapan layar dari percakapan grup Whatsapp, yang mengindikasikan adanya anak-anak STM pendemo bayaran.

Pada saat peristiwa  ini terjadi, salah satu hashtag yang sempat menempati posisi teratas di Twitter adalah #gejayamemanggil, yang banyak dicuitkan oleh mahasiswa untuk menyerukan aksi di Jalan Gejayan Yogyakarta. Ketika aksi demonstrasi berlangsung detiknews memberitakan tentang modus giveaway Rp 50 ribu di balik hashtag pro revisi UU KPK di Twitter. Salah satu teman saya dihubungi oleh keluarganya, karena di grup Whatsapp keluarga beredar broadcast message tentang mahasiswa yang turun kejalan untuk menggulingkan pemerintahan.

Kesimpang siuran fakta menguras sisi emosional. Efeknya banyak dari kita yang terlanjur mempercayai satu kebenaran yang banyak dibicarakan, lalu kemudian kecewa ketika terbukti bahwa kebenaran tersebut adalah suatu kebohongan. Lebih jauh, bahkan kita mungkin sudah sempat beradu argumen dengan teman atau keluarga, lalu mengalami kerenggangan hubungan.

Di era ini kita harus menjaga kewarasan diri dengan mengecek ulang setiap informasi yang kita terima. Tidak mudah percaya kabar yang datang dari orang yang kita anggap sebagai kaum intelek sekalipun. Jangan terburu-buru ikut menyikapi hal tertentu yang terlihat “seakan-akan” benar, hanya karena banyak dibicarakan di media sosial. Kita perlu menjadi skeptis dan kritis dalam memverifikasi sebuah informasi, supaya berita bohong tidak menjerumuskan kita pada kerenggangan hubungan sosial.

Lenny Luthfiyah

Lenny Luthfiyah

Mahasiswa Magister Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.