Sisi Lain Era Digital

Oleh Mukhammad Ichwanul Arifin*)

Perkembangan zaman akan diiringi oleh perkembangan teknologi informasi. Seseorang dapat mengakses sebuah informasi dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah terlebih dahulu.

Dalam sebuah teori generasi disebutkan, bahwa para remaja saat ini merupakan manusia yang lahir pada Generasi Z atau iGeneration. Bahasa sederhananya, manusia yang hidup di era digital.

Pada era digital, pola kehidupan seseorang sangat dipengaruhi oleh perkembangan internet. Sesuatu menjadi mudah untuk viral di dunia saat ini. Bahkan seseorang lebih cenderung menirukan gaya yang sedang viral di dunia maya.

Itulah dunia digital, dunia yang menjadikan dunia maya menjadi dunia nyata dan menjadikan dunia nyata seakan-akan maya.

Perkembangan dunia digital pun juga merambat ke berbagai sektor, di antaranya sektor informasi yang mempermudah dari koran/majalah kertas ke koran elektronik (eNewsPaper).

Karakteristik manusia saat ini lebih gelisah ketika gadget mereka tertinggal dibandingkan ketinggalan uang, bahkan tidak jarang saat ini anak kecil pun dibekali orang tuanya dengan gadget. Benar kan?

Tetapi sayangnya, perkembangan teknologi dan informasi saat ini tidak dibarengi dengan perkembangan moral manusia. Ibarat makanan, berita hoax atau ujaran kebencian selalu menjadi menu sehari-hari yang tidak pernah kelewat untuk disantap.

Sebuah fakta bahkan bisa diracik serta dibumbui dengan emosi kebencian untuk mengganyang musuh-musuhnya, tidak peduli ia lawan, kawan, ilmuan, tokoh masyarakat bahkan pejabat teras sekalipun, hanya untuk kepentingan tertentu.

Maka benar pandangan yang dikemukakan salah seorang filsuf berkebangsaan Inggris, Thomas Hobbes, bahwa manusia akan senantiasa menjadi serigala dan memangsa yang lainnya (Homo Homini Lupus).

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) merilis survei pada tahun 2016 di mana penetrasi pengguna internet tertinggi berusia 35-44 tahun dengan 38,7 juta manusia disusul usia 25-34 tahun dengan 32,3 juta dan usia 10-24 tahun menduduki peringkat ketiga dengan 24,4 juta.

Sungguh memilukan melihat statistik di atas, rata-rata pengguna internet merupakan usia produktif yang menjadi penerus bangsa. Tetapi selalu disuguhkan dengan berita hoax yang cenderung mengadu domba.

Jika terus dibiarkan, maka bangsa Indonesia akan semakin rapuh. Mudah diombang-ambingkan oleh beberapa oknum, sehingga visi kebangsaan kita untuk berdaulat, adil, dan makmur sulit diwujudkan.

Bukankah kita juga akan menghadapi bonus demografi?

*)Kontributor,
lulusan filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya.

kotakata.id

kotakata.id

Redaksi kotakata.id: portal analisis isu-isu aktual, populer, dan krusial.

Satu tanggapan untuk “Sisi Lain Era Digital

  • Avatar
    4 Januari 2018 pada 8:48 am
    Permalink

    Mantabbb…
    Amazing..

Komentar ditutup.