Smartphone dan Kemanusiaan Kita

Bertemu tidak berarti apa-apa, selain untuk mengistirahatkan luka dan hal-hal yang belum usai dibicarakan melalui media digital.

Bertemu di dunia nyata (real world) adalah memangkas jarak melampaui teritorial geografis. Tujuannya dua, bertatap muka dan menjadi manusia.

Globalisasi datang dengan karakternya yang mencengangkan, kecanggihan teknologi dan tersebarnya informasi secara cepat.

Bila kini, kita dengan mudah mampu bercakap-cakap melalui teks di layar ponsel, itu berarti kita sedang menikmati anak modernitas, cucu budaya global.

Lambat laun, keutuhan sosok sebagai manusia akan memudar. Kita menjadi manusia setengah robot. Atau sebenarnya kita sedang diprogram menjadi manusia mesin?

Kita tidak pernah tahu. Tetapi gejala ke sana sudah tampak. Kalau kebetulan kita orang-orang yang suka nongkrong di warung kopi, kita lebih suka menghabiskan waktu bermain dengan ponsel sendiri. Mengotak-atiknya seolah itu kawan paling berharga. Kita (sengaja) lupa pada kawan sebelah, padahal duduk satu meja.

Kehadiran warung kopi yang sudah mulai menyebar di tengah kota tak lagi menjadi tempat bagi kita menjadi manusia. Orang-orang menjelma makhluk lain dengan wujudnya fisik yang masih manusia.

Ponsel cerdas (smartphone) telah membuat manusia mampu melipat jarak tanpa melakukan ekspansi melampaui terminal-terminal kehidupan. Pertemuan-pertemuan fisik mulai tereduksi, sebab manusia modern lebih memilih pertemuan secara virtual. Mereka mengobrol di ruang-ruang yang oleh Jurgen Habermas disebut public sphere (ruang publik). Ini memang bukan sebuah kekeliruan, karena dunia terus berkembang.

Hanya di sisi lain, ponsel cerdas telah menjadikan kita makhluk individualistik. Umunya, ketika kita secara fisik berada di tengah ingar-bingar sekelompok manusia yang sedang membicarakan korupsi, penegakan hukum, dan lantunan musik, pada saat itu secara diam-diam kita sedang berselancar ke dunia-dunia yang tak memiliki batas dan sekat.

Belakangan, semua kota sedang menuju kota digital. Kota yang seluruhnya dimungkinkan menyatu dalam jaringan tunggal bernama internet.

Manusia tidak butuh lagi ruang-ruang nyata untuk berelasi dan membangun kontak sosial. Manusia sedang menuju manusia yang lain. Mungkin setelah ratusan tahun selepas ini, barangkali yang menghuni orbit ini bukan lagi manusia dalam makna yang sesungguhnya, melainkan sejenis makhluk yang di tubuhnya sudah penuh dengan program-program mekanistis.

Manusia menjadi alpa pada semua tentang dirinya.

Latif Fianto

Latif Fianto

Peminat kajian sosial dan budaya, lulusan Fakulas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Email: latiffianto7@gmail.com.