Subkultur Kekerasan dalam Penganiayaan Guru Budi

Dunia pendidikan kembali berduka seiring meninggalnya seorang guru bernama Ahmad Budi Cahyono. Pengajar berstatus guru tidak tetap di SMAN I Kecamatan Torjun, Kabupaten Sampang. Mirisnya, pelaku pemukulan yang berujung maut tersebut diketahui sebagai siswa sekolah menengah, berinisial MH, yang notabene adalah anak didik dari korban sendiri.

Jika kita mau jujur, kasus meninggalnya Budi sesungguhnya bukan yang pertama di dunia pendidikan kita. Kasus Budi adalah pristiwa pengulangan sekian kasus sebelumnya. Ibarat fenonema gunung es, ada banyak kisah-kisah tragis nan kelam yang tak tersentuh. Dan ironisnya, kita pun seolah belum cukup sadar untuk mengambil pelajaran darinya.

Sampai di sini, kita sepakat perilaku kekerasan yang dilakukan oleh MH kepada gurunya tergolong tindakan biadab. Namun demikian, persolan kekerasan di lembaga pendidikan tidak akan selesai dengan sekadar menghujat pelaku. Persolan paling dasar adalah bagaimana menghilangkan, atau paling tidak memutus mata rantai perilaku kekerasan dunia pendidikan itu sendiri? Karena kita tahu, dalam banyak sistuasi, kekerasan seolah diproduksi, bahkan direproduksi oleh pendidikan itu sendiri.

Dalam kaitan ini, kita bisa menyebut MH sebagai korban. Yaitu korban dari sebuah konstruksi pendidikan yang bias kekerasan. Bahwa pendidikan kita sejauh ini lebih fokus pada penguasaan materi ketimbang nilai. Faktanya, pendidikan dewasa ini lebih didominasi oleh keilmuan yang dianggap menjanjikan secara profit. Sebaliknya, pendidikan berbasis value minim perhatian, karena dianggap kurang laku di pasaran.

Pada saat bersamaan, sekolah seringkali memberi peluang masuknya perilaku kekarasan seiring kentalnya subkultur kekerasan. Berkenaan dengan ini, bukan rahasia umum lagi jika kasus tindak kekerasan dunia pendidikan seringkali muncul karena modus hubungan senior-junior, kakak kelas-adik kelas. Faktanya, setiap kali ajaran baru, siswa sudah digembleng menjadi ‘keras’ melalui aksi perpeloncoan.

Secara sosiologis, Peter L. Berger (1929) menyebutkan, nilai (kekerasan) yang dieksternalisasikan dalam cara dan tindakan berulang-ulang, apalagi melibatkann institusi, kuat kemungkinan akan terinternalisasi dalam kesadaran sebagai wujud (objektivikasi) nilai kultural yang dianut. Dalam situasi seperti ini, betapa pun nilai (kekerasan) tersebut dianggap buruk, maka menjadi sulit untuk dapat mengubah, apalagi membrantasnya.

Sampai di sini, kita, khususnya para praktisi pendidikan, sah-sah saja mengutuk dan mengecam perilaku MH. Namun, alangkah bijaknya, jika kita juga berani mengecam dan mengutuk diri kita, yang selama ini membiarkan kekerasan berkeliaran di lingkungan pendidikan kita.

Abd. Hannan

Abd. Hannan

Magister Sosiologi, lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Email: hannan.taufiqi@gmail.com.