Tak Perlu Valentine’s Day untuk Jatuh Cinta

Setiap tanggal 14 Februari, para kawula muda biasanya merayakan hari Valentine’s Day. Pada hari tersebut para kawula muda berbagi cokelat, bunga, ataupun sejenisnya sebagai ungkapan cinta dan kasih sayang mereka pasa sesama, terutama pada kekasihnya.

Terlepas dari bagaimana historitas sesungguhnya Valentine’s Day itu sendiri, serta riuhnya seliweran hadis tasyabbuh di linimasa tentang perayaan hari itu, ada yang menjadi perhatian khusus penulis dari perayaan Valentine’s Day, yaitu pengekspresian dari pada cinta itu sendiri.

Berbicara tentang cinta, sulit untuk mendefinikan istilah tersebut. Sebab cinta tidak bisa diungkapkan hanya melalui untaian kata, tetapi cinta merupakan bentuk konkret perilaku itu sendiri. Cinta yang sekadar diucapkan melalui untaian kata, bisa jadi untaian tersebut hanya diberikan untuk memberikan rayuan sekejap tanpa adanya perwujudan konkret. Sehingga cinta hanya menjadi untaian kata yang tidak bermakna.

Lalu bagaimana sesungguhunya ekspresi cinta itu?

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW. sedang menghadapai sakaratul maut dengan sakit yang luar biasa, nabi tetap mengingat umatnya, bahkan menghendaki seluruh rasa sakit sakaratul maut umatnya dilimpahkan kepada dirinya. Sesuatu yang tentu sangat sulit dijumpai hari ini pada figur publik atau ulama kita. Kecintaan nabi yang luar biasa pada umatnya menarasikan ekpresi konkret dari cinta itu sendiri, yang belakangan semakin tersisih dalam kehidupan kita.

Selain kisah di atas, sosok ibu juga bisa menggambarkan ekspresi cinta yang sesungguhnya. Dari sejak mengandung, ibu tidak pernah berkeluh kesah tentang berbagai derita yang ia rasakan, sampai kemudian mengantarkan kelahiran anaknya ke dunia hingga membesarkannya. Tidak ada sedikitpun kebencian dari ibu kepada anaknya, bahkan dalam keadaan sakit, ibu tetap saja memberikan cinta dan kasih sayangnya. Sehingga tidak mengherankan kalau ibu ditempatkan lebih tinggi dari seorang ayah.

Jika bisa kita sarikan, cinta yang sesungguhnya adalah sebuah pemberian tanpa mengharapkan balasan dari apa yang diberikan. Jikalau masih mengharap balasan, maka hal itu bukanlah cinta.

Mengutip perkataan Candra Malik, “Tidak ada yang salah ketika jatuh cinta, tidak ada yang benar ketika jatuh rindu”. Maka sesungguhnya orang yang sedang jatuh cinta akan melakukan apa saja ketika sedang larut dalam buaian cinta, termasuk berbagai hal yang dinilai ganjil dalam masyarakat.

Dalam beribadah pun seorang Salik (penempuh jalan kesufian) dalam mengekspresikan cinta kepada Tuhannya dilakukan dengan berbagai cara, ada yang tiada henti memutar biji tasbih hingga menggeleng-gelengkan kepalanya. Bahkan ada yang setiap hari tiada henti menyebut asma suci-Nya hingga pada satu titik, ruhnya pun ikut berdzikir (dzikir ruh).

Manusia bebas untuk mengekspresikan rasa cintanya, baik kepada Tuhannya ataupun kepada sesamanya. Tidak pernah ada dimensi ruang dan waktu yang membatasi. Jika sudah jatuh cinta, maka tidak perlu menunggu Valentine’s Day kan untuk sekadar mengekspresikan cinta?

Mukhammad Ichwanul Arifin

Mukhammad Ichwanul Arifin

Pengkaji tasawuf, lulusan Akidah dan Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: ichwan.ungu@yahoo.co.id.