Tantangan Perguruan Tinggi Kita

Perguruan tinggi  kita  masih dilanda persoalan kualitas. Di antara segudang perguruan tinggi ternama, masih banyak perguruan tinggi yang belum segera berbenah. Boro-boro meningkatkan kualitas dan go internasional, urusan akreditasi saja belum sepenuhnya beres.

Pendidikan tinggi di Indonesia memang tak diarahkan untuk membentuk ahli. Perguruan tinggi kita lebih condong pada pemenuhan  pasar dan angkatan kerja. Tipe lain model perguran tinggi kita hanya menjaring konsumen sebanyak-banyaknya tanpa  mau tahu nasib mereka selanjutnya.

Disorientasi perguruan tinggi ini sudah cukup lama terjadi, hanya saja memang agak susah bagi pemerintah untuk membereskan persoalan ini. Selain harus menampung segudang persoalan tadi, pemerintah juga dituntut untuk menyelesaikan dan mengurai persoalan perguruan tinggi kita.

Badan Akreditasi Nasional (BAN-PT) tak boleh subjektif dalam menilai kualitas kampus. Sayang sekali,  karena desakan  pasar, BAN bisa dengan begitu mudah memberikan akreditasi insitusi A untuk perguruan tinggi yang sebetulnya belum layak mendapatkan predikat itu.

Kualitas perguruan tinggi tak jauh dari karya akademik, publikasi akademik, sampai dengan kontribusi akademik. Ketiga hal ini penting dalam mengukur kualitas perguruan tinggi kita.

Di era masyarakat ekonomi ASEAN kali ini, Kemenristek akan menerapkan kebijakan yang menantang perguruan tinggi kita. Pemerintah akan menggandeng perguruan tinggi asing untuk masuk ke Indonesia.

Salah satu yang menawarkan diri adalah Inggris dan Australia. Selama ini, kuliah di luar negeri menjadi masalah bagi mahasiswa di Indonesia. Masalah tersebut di antaranya adalah akses dan persoalan dana. Kedua hal ini akan diatasi dengan mudah ketika kampus-kampus asing itu justru berdatangan ke negara kita.

Tantangannya adalah bagaimana kampus-kampus di negara kita mereposisi diri dan mengukur diri. Profesor-profesor yang tak produktif, doktor-doktor kita yang malas harus segera dididik dan diurus. Pemerintah tak boleh diam melihat minimnya produktivitas akademik dan juga kontribusi akademik kita.

Persoalan dana juga perlu dipertimbangkan untuk memacu produktivitas civitas akademika. Di samping itu semua, kualitas dan daya tawar kita memang menjadi pekerjaan utama agar tetap dilirik dunia. Kampus yang punya identitas, punya karakter,  dan juga program dan prospek yang jelas tentu akan berani bersaing di dunia internasional. Begitu pula sebaliknya, kampus yang masih menata diri, membenahi banyak pekerjaan rumah,  tentu tak siap dengan hadirnya perguran tinggi  asing di negeri kita.

Arif Yudistira

Arif Yudistira

Pendidik di SMK Kesehatan Citra Medika, pernah mengajar di MIM PK Kartasura. Email: arif_love_cinta@yahoo.co.id