Terorisme dan Luka Kemanusian Kita di Surabaya

Tak semua orang mengutuk terorisme, buktinya sampai sekarang masih ada pelaku dan penyokong terorisme. Tak semua orang ketakutan dengan terorisme, penandanya, kampanye kami tak takut dan lawan terorisme, terus berjalan. Pun, tak semua orang berani pada terorisme, karena kenyataannya terorisme menyakitkan dan menghadirkan luka mendalam.

Apa yang terjadi di Surabaya, berupa bom bunuh diri di tiga gereja, merobek nalar kemanusian kita. Bertahun-tahun saya tinggal di Surabaya, baru kali ini dikejutkan dengan tragedi kemanusian yang paling mengerikan. Apalagi dalam banyak berita, tersiar ada korban dari anak-anak tak terdosa, yang ikut keluarganya melakukan ibadah di gereja. Mereka menjadi korban keganasan kemanusian, mungkin pula kegilaan dalam beragama.

Saya sebagai Muslim, tentuk tak membenarkan tindakan terorisme sebagai bagian dari ajaran Islam. Namun juga tak menyangkal, ada sebagian kelompok dari Islam, yang menyuburkan tindakan kekerasan, termasuk terorisme.

Melihat tragedi di Surabaya terjadi di greja, rasanya sulit untuk tak mengaitkan kasus tersebut dengan motif agama. Setidak-tidaknya, ada dorongan teologis, yang melegitimasi tindakan tersebut. Tak mungkin ada orang yang berani mati konyol tanpa alasan. Dalam banyak kasus terorisme, alasan jihad fi sabilillah, selalu nomer satu diketengahkan.

Kita barangkali bisa beranggapan dan menyangkal, terorisme sebagai jihad fi sabilillah, adalah sebentuk kesalahpahaman dalam beragama. Tapi nyatanya, doktrin tersebut sangat mengakar, dan mampu mengembangbiakkan gerakan terorisme, meski pelakunya terus dibekuk dan diringkus oleh aparat kepolisian. Artinya, bagi kita doktrin tersebut salah, namun bagi mereka dianggap sebagai kebenaran.

Keyakinan dalam beragama, memang kadang sulit dinalar. Kasus terorisme menjadi contohnya. Bayangkan saja, betapa sangat mengerikan, ketika ada orang yang merasa berpesta pahala di tengah penderitaan dan luka orang lain, yang akibat keangkuhannya dalam beragama, menyebabkan banyak orang meninggal dunia dan keluarga dari korban tersebut mengalmi luka mendalam sebab kepergiannya.

Sampai kapan tragedi seperti ini tidak terjadi lagi? Sampai kita semua merasa, harga satu nyawa orang tak ada duanya.

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.