The Santri, Simbol Kemodernan Kaum Sarungan

Beberapa waktu lalu, film The Santri garapan sutradara fenomenal Livi Zheng menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan masyarakat. Film yang dibintangi Wirda Mansyur, Veve Zulfikar, dan Azmi Iskandar tersebut ramai diperbincangkan di berbagai grup Whatsapp, Twitter, Facebook hingga menjadi jajanan pelengkap di warung kopi. Perbincangan film tersebut memuncak dengan munculnya hashtag #tolakthesantri yang menjadi trending topic di jagad raya Twitter beberapa waktu lalu.

Meskipun masih berupa trailer, nyatanya mereka yang kontra terus mengomentari beberapa adegan yang menurutnya tidak sesuai dengan tradisi santri itu sendiri, di antaranya adalah adegan ketika dua orang santri memasuki gereja sembari menenteng tumpeng ke pastor yang tengah berdiri di hadapan jemaatnya. Selain itu, ada juga yang mengomentari adegan saat Azmi menyerahkan buku catatan berkalung tasbih ketika tengah berduaan dengan Wirda Mansyur di tengah hutan.

Di tengah pro dan kontra yang ada, sebuah film tidak akan bisa menggambarkan secara utuh tentang tema yang diangkatnya, termasuk film The Santri yang mengupas sisi kehidupan para santri di pondok pesantren. Dalam sebuah film, pasti ada sisi yang direduksi agar dapat memuat sisi film yang lain dengan hanya berdurasikan sekian jam.

Beberapa film yang lalu juga demikian. Film Bumi Manusia garapan Hanung Bramantyo yang diangkat dari Novel yang sama karya Pramoedya Ananta Toer tidak dapat memuat keseluruhan adegan peristiwa yang tersurat dalam novel tersebut. Pun demikian dengan Film Ayat-Ayat Cinta (baik yang pertama ataupun yang kedua) tidak bisa memuat keseluruhan adegan peristiwa yang yang tersurat dalam novel tersebut.

Para pembuat film lebih memilih untuk memasukkan adegan-adegan penting dan membuang adegan yang tidak terlalu mempengaruhi jalannya sebuah cerita. Bahkan ada pula yang mengubah satu karakter tokoh ke karakter yang lain, agar film tersebut berjalan tidak membosankan.

Film The Santri yang mengisahkan tentang santri beserta seluk-beluknya tidak lepas dari reduksi tersebut. Meskipun tidak dapat menggambarkan secara utuh tentang kehidupan santri di pondok pesantren, film The Santri nyatanya mampu memperlihatkan kemodernan kaum santri yang identik dengan kaum sarungan, kaum yang selama ini dianggap sebagai kaum yang kolot serta selalu ketinggalan zaman. Hal tersebut terlihat pada akhir trailer bagaimana seorang santri dapat melanjutkan studinya ke Amerika Serikat setelah dia lulus dari pondok pesantren.

Di tengah pro dan kontra tentang film tersebut, bukankah kita tetap selalu penting belajar banyak hal, termasuk pada film The Santri.

Mukhammad Ichwanul Arifin

Mukhammad Ichwanul Arifin

Pengkaji tasawuf, lulusan Akidah dan Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: ichwan.ungu@yahoo.co.id.