Ujian Kesaktian Pancasila

Pancasila itu sakti. Katanya. Kesaktiannya, ditandai dengan kemampuan Pancasila menghalau, bahkan menumpas ideologi komunisme pada paruh waktu tahun 1965 – 1966.

Tentu setiap perayaan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober, ingatan tentang tragedi pembantaian anggota atau simpastian PKI, selalu menyeruak dalam ingatan bangsa kita.

Segenap peristiwa kelam itu, bermula dari Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) 1965, yang dianggap sebagai upaya kudeta. Pembunuhan enam jenderal, memicu konflik berdarah yang luar biasa. Setidaknya dalam catatan sejarah, tak kurang dari satu juta orang dibantai.

Sekarang, 54 tahun peristiwa itu berlalu. Tetapi tetap saja, ketakutan kita tentang kebangkitan komunisme tak pernah benar-benar padam. Ada saja, oknum yang memainkan isu PKI, untuk menakut-nakuti kita. Padahal, derita keluarga korban pembantaian itu, sampai sekarang masih lekang dalam ingatan mereka.

Bagimana mungkin, mereka dapat berpikir tentang kebangkitan PKI, sementara derita diri dan keluarganya tak pernah benar-benar pulih. Belum lagi sangat banyak, korban tak bersalah atas tuduhan PKI, yang mungkin sekarang sambil meratapi nasib, meraba-raba masa depannya, hidup di negara yang katanya Pancasilais.

Cukup. Derita pembataian terbesar itu, menjadi yang pertama dan terakhir, dalam sejarah bangsa kita.

Ketika belakangan kerusuhan terjadi di Papua, yang teranyar tiga puluh lebih orang meninggal, bahkan ada yang dibakar hidup-hidup di Wamena Papua. Kita menjadi terhenyak, sembari bertanya, di mana negara? Di mana Pancasila kita yang katanya sakti?

Apapun alasannya, termasuk akibat kebiadaban kelompok sparatis sekalipun, negara harus bertanggung jawab terhadap keselamatan dan keutuhan bangsa Indonesia.

Pancasila itu sakti. Sebenarnya, bukan katanya. Ia benar-benar sakti, tapi bersyarat. Pancasila itu sakti, kalau negara—pemerintah—mampu menghidupkannya.

Selama ini, Pancasila hanya dipajang di ruang-ruang pemerintahan. Tetapi sangat sedikit dari mereka, yang menghayati dalam ruang hidup—perilaku dan kebijakan.

Karena itu, setiap ada peristiwa kekerasan, baik itu pembantaian, pembunuhan, ataupun kerusuhan, kita seperti dipaksa untuk mengingat tanggal keramat kesaktian Pancasila, 1 Oktober.

Mungkin, ini ujian kesaktian Pancasila.  

Masduri

Masduri

Lulusan filsafat pada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya. Email: masduri_as@yahoo.co.id.