Unjuk Rasa Antikorupsi

Sudah tidak asing lagi dalam pandangan kita saat ini, unjuk rasa terjadi di mana-mana menuntut kepekaan pejabat publik. Mahasiswa lantang bersuara di sosial media dan aksi nyata menolak revisi UU KPK. Tentu, kita perlu bertepuk tangan mendukung mahasiswa. Sebab ketika mahasiswa tak lagi mengontrol kebijakan negara, maka tidak menutup kemungkinan keserakahan akan semakin membesar. Kita sama-sama mengerti bahwa korupsi adalah musuh bersama.

Para intelektual aktivis harus semakin terasah kecerdasan dan kegigihannya untuk membela kepentingan rakyat. Revisi Undang-Undang KPK, jelas melemahkan gairah pemberantasan korupsi. Apalagi sejauh ini, para koruptor masih punya ruang istimewa. Sehingga kaum kaum proletar tetap saja terlantar, terdampar ke mana-mana untuk bisa bertahan hidup. Sementara, pejabat publik semakin kaya raya berpesta uang rakyat.

Sebagai intelektual aktivis, mahasiswa tidak boleh apatis. Sifat apatis adalah pembunuhan karakter secara riil. Karenanya, para pemangku kebijakan harus selalu dikritisi, ketika kekuasaan tidak memperdulikan rakyat kecil.

Kita seringkali menyaksikan fenomena tidak bermoral dan nirlogika, yang telah berterbaran di kursi kekuasaan. Akal sehat seperti dicampakkan, yang berjalan adalah logika keserakahan. Sangat ironis sekali ketika korupsi menjadi ladang meraup keuntungan dan kesejahteraan individual.

Pada kenyataannya, masyarakat sangat tidak merasakan keberhasilan apapun dari pemerintah, sebelum kualitas kehidupan ekenomi mereka semakin membaik. Pemerintah tidak boleh arogan, seolah-olah telah banyak pencapaian. Sementara derita kaum proletar semakin tepapar, akibat korupsi yang semakin membesar.

Kalau koruptor semakin membengkak, tidak akan lepas dari kemustahilan bahwa kesejahteraan masyarakat akan semakin tercekik dan tergerus. Kegetiran akan dirasakan oleh setiap elemen bawah. Isu kenaikan iuran BPJS, BBM mahal, dan bahan pokok mahal, adalah penambahan nominal, yang pada akhirnya masyarakat akan kehilangan akal normal. Tentu, unjuk rasa menjadi alternatif untuk menyemai asa.

Abu Rakso

Abu Rakso

Lulusan Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang.