Urgensi Kemesraan Ulama dan Umara

Ada hal menarik terjadi pada kegiatan pengajian di Masjid Az Zikra, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/3) yang disiarkan secara live di salah satu statisun televisi. Kejadian tersebut adalah Bapak Jenderal Pol Tito Karnavian, Kapolri, hadir dan bertanya kepada Ustd. Abdul Somad sebagai penceramah dalam kegiatan pengajian tersebut.

Bukan terkait isi pertanyaannya yang disampaikan oleh Pak Tito melaikan kemesraan Ulama dan Umara yang patut diapresiasi. Isi pertanyaan bisa saja berupa retorika semata, tetapi hadir dan duduk bersama serta menyampaikan pertanyaan yang jika dilihat dari isi pertanyaanya Pak Tito pasti sudah tahu jawabannya merupakan hal luar biasa. Di sela-sela kesibukannya Pak Tito menyempatkan hadir dan semraung dengan masyarakat. Simbolisasi ini merupakan strategi jitu yang patut diapresiasi.

Indonesia sebagai negara dan bangsa yang besar tentu membutuhkan strategi khusus menangkal gerakan fundamentalisme agama serta isu terorisme yang muncul akibat dari gerakan itu. Langkah represif bukanlah solusi yang tepat untuk masyarakat majemuk seperti Indonesia ini, tetapi menjadi bagian dari masyarakat, membaur dengan mereka dalam kegiatan keagamaan adalah langkah yang sangat strategis.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjelaskan “Ada dua golongan di antara umat manusia yang apabila keduanya baik maka akan baiklah seluruh manusia, dan apabila kedua golongan itu rusak maka rusaklah seluruh manusia, yaitu ulama dan umara” (HR. Abu Nu’aim). Dalam konteks di atas kapolri sebagai umara dan Ust. Abdul Somad sebagai ulama karena kemashurannya dalam ilmu agama dibidangnya.

Jika dua kelopok terserbut senantiasa damai dan mesra, umara amanah dalam menjalankan tugas kenegaraan dan memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, sementara ulama istiqamah dalam membina umat, maka cita-cita untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar Insya Allah akan tercapai. Kemesraan ini tentu harus menjadi budaya yang terus dipertahankan. Jangan sampai Indonesia menjadi negara seperti negara-negara Islam yang selalu dilanda konflik antar ummat seagama.

Pada tahun politik di 2018 ini sudah seyogyanya ulama dan umara menempatkan dirinya sesuai dengan proporsinya. Jangan sampai akibat dari kepentingan politik mengorbankan jati dirinya. Jika status keduanya sudah tergadaikan, maka seperti sabda Nabi tersebut, jika ulama dan umaranya rusak maka rusaklah seluruh manusia.

Muhammad Yunus

Muhammad Yunus

Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang.