Ustaz Somad, Hate Speech dan Kemelut Kebencian Masyarakat

Menelaah fenomena Ustaz Abdus Somad (UAS) membuat siapapun fudul sekaligus waswas. Beliau seperti lahir membawa dua pilihan ambivalensi di tengah kisruhnya persoalan toleransi baragama di negeri ini; di tengah masyarakat yang gandrung mencemooh para ulama dan kiai, di tengah santernya gelombang intoleransi beragama dan fanatisme agama (claim of truth). Di saat bersamaan datanglah UAS, mendapat panggung di media sosial tanpa membawa bendera dari kelompok ormas Islam tertentu. Ustaz yang satu ini tentu harus menelan air liur atas derita hinaan dan kecaman yang bombastis dari masyarakat yang tidak suka.

Namun, apalah arti hinaan itu bagi kekasih Allah? (bukan berarti Somad kekasih Allah) karena dalam dunia tasawuf tingkat kewalian itu, justru ada yang mencoba mengukur dari fluktuasi massa atas klaim kafir terhadap wali tersebut. Jadi, semacam al-Hallaj, Ibn Arabi, Dzunun al-Misri, dan Syuhrawardi merupakan sederetan wali yang banyak makan garam klaim kafir dan hinaan dari berbagai masyarakat dan ulama yang membencinya. Semuanya berakhir dengan eksekusi mati di tiang gantungan.

Sialnya, ketenaran UAS tidak luput dari terpaan problem di atas, mulai cemoohan, cercaan, dan bullying terus berdatangan dari netizen menghunjam UAS. Bahkan nyaris mendapat penolakan dari masyarakat dengan todongan anti NKRI dan Pancasila. UAS di kalangan tertentu telah getol dituding sebagai antek-antek HTI. Taruhlah kejadian di Bali, pada tanggal 08 Desember 2017, bahkan tak tanggung-taggung juga terjadi penolakan di Hong Kong pada tanggal, 24 Desember 2017.

Memang beberapa bulan yang lalu, ustaz alumnus al-Azhar Kairo yang cukup alim ini, telah membuat viral media sosial atas peryataanya bahwa, Nabi Muhammad tidak dapat menegakkan Islam rahmatan lil alamin, sebelum khilafah itu tegak. Setelah sekian lama dari kalangan heters tak menemukan cela tentang UAS. Video tersebut dengan terang-terangan menyatakan sebuah bentuk “penghinaan” terhadap Nabi. Meski ada semacam klarifikasi dari UAS, seakan kelompok yang kontra terhadap UAS tidak bisa menerima dengan lapang dada.

Bagaimanapun UAS pantas disoroti oleh beberapa kalangan aktivis dan pemerhati masalah kerukunan beragama di Indonesia, karena tuduhan UAS sebagai antek HTI bukan tidak beralasan, selain UAS dekat dengan Felix Siauw, juga pernah ditemukan dokumen negara yang mencamtumkan nama UAS sebagai penasehat DPD I HTI Riau, serta setiap ceramah-ceramhnya kerap mengagumi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, sebagai salah satu representasi negara yang berhasil menegakkan syariat Islam dengan khilafah.

Namun, di sisi yang lain. UAS memunculkan ambivalensi dan keambiguan. Karena ketika UAS dituding sebagai penyebar yang meniupkan wacana khilafah, dalam diri UAS terdapat semangat dakwah NU, serta semangat kemajuan Muhammadiyah, dan nahi munkar FPI, meski semua masih sebatas dugaan secara zahirnya saja.

Sialnya, ustaz yang telah naik daun ini sangat rentan mengundang perpecahan ulama di banyak ormas Islam, salah satu contohnya tentang fenomena “NU Garis Lurus” dengan cara membuat polarisasi di tubuh NU mengundang sebagian ulama sakit hati. Jika hal tersebut dianggap sebagai hal biasa dan sepele, tidak salah jika kemudian kemelut kebencian di masyarakat terus melebar ke belbagai lini sosial.

Taruhlah di sini, tentang maraknya ujaran kebencian (hate speech) dari masyarakat yang bermunculan, baik itu berupa kata-kata umpatan, labelling, intimidasi, bahkan berupa kata-kata provokatif yang mengancam hak asasi manusia. Sehinga, tidak bisa menutup kemungkinan ujaran kebencian pada gilirannya bisa menciptakan garis demarkasi antar umat beragama, dan bisa menimbulkan kejahatan atas dasar kebencian (hate crime).

Tidak pelak beberapa bulan lalu (27/01), terjadi penyerangan karena fanatisme agama (claim of truth) terhadap KH. Umar Basri atau Kiai Emong, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Tenjolayah Bandung, setelah salat subuh berjamah. Kejadian ini sebagai bukti ketidakdewasaan masyarakat dalam menyikapi keberagamaan. Kasus tersebut mengingatkan saya pada kasus Syiah-Sunni Sampang, 2013 yang silam, saat masyarakat ramai-ramai membakar sebuah Pondok Pesantren Darul Ulum, Desa Gersempal, Kecamatan Omben, pimpinan Tajul Muluk. Propaganda kebencian, teror, dan intimidasi terus bertubi-tubi diarahkan kepada kelompok minoritas Syiah di sana, hingga kasus tersebut mencuat menjadi isu internasional yang tidak bisa dihapus dalam konstelasi sejarah kekerasan intoleransi beragama di Indonesia.

Belakangan, meski tak sampai terjadi persekusi dan pembantaian, setidak-tidaknya ada sebuah kasus pembubaran terhadap pengajian-pengajian UAS, ada penolakan terhadap pengajian-pengajian UAS, serta ujaran-ujaran kebencian di media sosial terus menghujani para followers UAS, sebagai bentuk teror dan intimidasi yang bisa saja  terus merambah pada persoalan yang lebih besar dan lebih seruis.

Mencari Jalan Tengah
Sebagai orang yang paham akan hakikat keberagaman, sungguh tidak patut berkelahi hanya persoalan perbedaan ideologi dan cara menafsirkan teks agama. Apalagi secara terang-terangan kita menolak UAS hanya karena berbeda dengan kita. Sungguh ini negara yang sangat menjunjung kebebasan, dan menjunjung akan hak-hak manusia. Ada baiknya, para cendikiawan menjaga konflik-konflik keberagamaan itu agar tidak terjadi, dengan alasan apapun, bukan mengorek akan perbedaan yang ada.

Meski, nantinya secara diam-diam, bisa saja, target UAS adalah membumikan wacana khilafah di negara yang menurutnya skuler. Akan tetapi, selama ini UAS tidak pernah mengajak untuk menegakkan khilafah di Indonesia, ceramah-ceramahnya masih relevan dan patut untuk didengarkan dan diambil hikmahnya. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Gus Dur untuk belajar kepada siapa saja selama itu baik.

Memang manusia selalu tidak bisa hanya dilihat dari satu dimensi saja, karena masih ada dimensi lain yang tidak dapat kita lihat, sedang itu adalah hal yang baik untuk kita ambil, yang bagi ulama sekaliber Yusuf al-Qardhawi sebagai Islam jalan tengah. Bersikap moderat dan lebih dewasa. Wallahua’lam.

Jamalul Muttaqin

Jamalul Muttaqin

Penulis Essai, Cerpen dan Puisi, asal Sumenep. Tinggal di pesantren Ali Maksum, Krapyak Yogyakarta.