Waktu Senggang dan Kantong Peradaban

Sejauh ini, ada pandangan umum dalam pemikiran masyarakat, khususnya di kalangan ilmuwan sosial, bahwa kebaradaan manusia di muka bumi memiliki keterkaitan kuat dengan kebudayaan dan peradaban. Manusia dengan segala kelebihan dan kecerdasannya menjadi tonggak lahirnya kebudayaan, sekaligus pelopor di mana peradaban dapat lahir di tengah kehidupan masyarakat.

Namun demikian, sejauh itu pula teka-teki bagaimana asal muasal serta proses kebudayaan dan peradaban itu lahir, hingga sekarang masih berada alam kisaran perdebatan. Banyak penelitian dan kajian dilakukan untuk menjawab semua itu. Namun tetap saja belum mampu menghadirkan jawaban objektif yang dapat memuaskan banyak kalangan. Setiap disiplin pengetahuan mempunyai klaim kebenaran (truth claim) sendiri, kapan, di mana, serta bagaimana kebudayaan dan peradaban pertama kali muncul menyertai sejarah keberadaan manusia.

Salah satu perspektif keilmuan yang berusaha menjawabnya adalah perspektif sejarah. Sebagai sebuah perspektif, tentu cara pandang historis memiliki cara kerja berbeda dengan disiplin keilmuan lainnya, lebih-lebih dengan perspektif keagamaan. Salah satu tesis menarik dari perspektif ini, bahwa peradaban dan kebudayaan muncul sebagai keberlanjutan waktu senggang (leisure time) yang dimiliki oleh manusia.

Waktu senggang adalah masa di mana manusia telah selesai dengan parkara perutnya. Tidak lagi terbebani dengan urusan kantong. Tidak lagi membebani pikirannya tentang bagaimana besok dirinya bisa makan, bisa minum, dan bertahan hidup. Dalam logika leisure time, seorang yang telah mapan dengan kebutuhan hidupnya akan mendorong dirinya untuk bertindak konstruktif. Sebaliknya, mereka yang belum selesai dengan perkara perutnya dapat menimbulkan tindakan destruktif.

Faktanya, kita melihati negara ini jadi kacau balau karena anomali koruptor yang tak kunjung selesai dengan urusan perut. Mereka yang masih suka menggelapkan uang rakyat, mencuri kekayaan negara, mengemplang pajak bukan karena tidak tahu bahwa itu haram dan melanggar hukum, namun lebih karena dirinya belum beres dengan urusan perutnya. Persisnya, logika leisure time di sini hendak menegaskan betapa kecukupan terhadap materi adalah dasar terwujudnya gerak peradaban.

Sebab itu, suatu bangsa-negara tidak akan mencapai puncak peradaban dan kebudayaan, sepanjang mental dan pikiran dalam birokrasi mereka belum selesai dengan perkara perut. Jika untuk urusan perut saja belum beres, bagaimana mungkin mereka dapat berbicara keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat?

Abd. Hannan

Abd. Hannan

Magister Sosiologi, lulusan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya. Email: hannan.taufiqi@gmail.com.