Agama – KOTAKATA.ID https://kotakata.id Portal Analisis Isu-isu Aktual, Populer, dan Krusial Wed, 25 Apr 2018 11:34:39 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.9.5 /wp-content/uploads/2017/12/cropped-Untitled-311111111111111111111111111111-4-32x32.jpg Agama – KOTAKATA.ID https://kotakata.id 32 32 140346159 Ustaz Somad, Hate Speech dan Kemelut Kebencian Masyarakat https://kotakata.id/ustaz-somad-hate-speech-dan-kemelut-kebencian-masyarakat/ Tue, 20 Mar 2018 03:57:07 +0000 https://kotakata.id/?p=1415 Menelaah fenomena Ustaz Abdus Somad (UAS) membuat siapapun fudul sekaligus waswas. Beliau seperti lahir membawa dua pilihan ambivalensi di tengah kisruhnya persoalan toleransi baragama di negeri ini; di tengah masyarakat yang gandrung mencemooh para ulama dan kiai, di tengah santernya gelombang intoleransi beragama dan fanatisme agama (claim of truth). Di saat bersamaan datanglah UAS, mendapat panggung di media sosial tanpa membawa bendera dari kelompok ormas Islam tertentu. Ustaz yang satu ini tentu harus menelan air liur atas derita hinaan dan kecaman yang bombastis dari masyarakat yang tidak suka.

Namun, apalah arti hinaan itu bagi kekasih Allah? (bukan berarti Somad kekasih Allah) karena dalam dunia tasawuf tingkat kewalian itu, justru ada yang mencoba mengukur dari fluktuasi massa atas klaim kafir terhadap wali tersebut. Jadi, semacam al-Hallaj, Ibn Arabi, Dzunun al-Misri, dan Syuhrawardi merupakan sederetan wali yang banyak makan garam klaim kafir dan hinaan dari berbagai masyarakat dan ulama yang membencinya. Semuanya berakhir dengan eksekusi mati di tiang gantungan.

Sialnya, ketenaran UAS tidak luput dari terpaan problem di atas, mulai cemoohan, cercaan, dan bullying terus berdatangan dari netizen menghunjam UAS. Bahkan nyaris mendapat penolakan dari masyarakat dengan todongan anti NKRI dan Pancasila. UAS di kalangan tertentu telah getol dituding sebagai antek-antek HTI. Taruhlah kejadian di Bali, pada tanggal 08 Desember 2017, bahkan tak tanggung-taggung juga terjadi penolakan di Hong Kong pada tanggal, 24 Desember 2017.

Memang beberapa bulan yang lalu, ustaz alumnus al-Azhar Kairo yang cukup alim ini, telah membuat viral media sosial atas peryataanya bahwa, Nabi Muhammad tidak dapat menegakkan Islam rahmatan lil alamin, sebelum khilafah itu tegak. Setelah sekian lama dari kalangan heters tak menemukan cela tentang UAS. Video tersebut dengan terang-terangan menyatakan sebuah bentuk “penghinaan” terhadap Nabi. Meski ada semacam klarifikasi dari UAS, seakan kelompok yang kontra terhadap UAS tidak bisa menerima dengan lapang dada.

Bagaimanapun UAS pantas disoroti oleh beberapa kalangan aktivis dan pemerhati masalah kerukunan beragama di Indonesia, karena tuduhan UAS sebagai antek HTI bukan tidak beralasan, selain UAS dekat dengan Felix Siauw, juga pernah ditemukan dokumen negara yang mencamtumkan nama UAS sebagai penasehat DPD I HTI Riau, serta setiap ceramah-ceramhnya kerap mengagumi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, sebagai salah satu representasi negara yang berhasil menegakkan syariat Islam dengan khilafah.

Namun, di sisi yang lain. UAS memunculkan ambivalensi dan keambiguan. Karena ketika UAS dituding sebagai penyebar yang meniupkan wacana khilafah, dalam diri UAS terdapat semangat dakwah NU, serta semangat kemajuan Muhammadiyah, dan nahi munkar FPI, meski semua masih sebatas dugaan secara zahirnya saja.

Sialnya, ustaz yang telah naik daun ini sangat rentan mengundang perpecahan ulama di banyak ormas Islam, salah satu contohnya tentang fenomena “NU Garis Lurus” dengan cara membuat polarisasi di tubuh NU mengundang sebagian ulama sakit hati. Jika hal tersebut dianggap sebagai hal biasa dan sepele, tidak salah jika kemudian kemelut kebencian di masyarakat terus melebar ke belbagai lini sosial.

Taruhlah di sini, tentang maraknya ujaran kebencian (hate speech) dari masyarakat yang bermunculan, baik itu berupa kata-kata umpatan, labelling, intimidasi, bahkan berupa kata-kata provokatif yang mengancam hak asasi manusia. Sehinga, tidak bisa menutup kemungkinan ujaran kebencian pada gilirannya bisa menciptakan garis demarkasi antar umat beragama, dan bisa menimbulkan kejahatan atas dasar kebencian (hate crime).

Tidak pelak beberapa bulan lalu (27/01), terjadi penyerangan karena fanatisme agama (claim of truth) terhadap KH. Umar Basri atau Kiai Emong, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Tenjolayah Bandung, setelah salat subuh berjamah. Kejadian ini sebagai bukti ketidakdewasaan masyarakat dalam menyikapi keberagamaan. Kasus tersebut mengingatkan saya pada kasus Syiah-Sunni Sampang, 2013 yang silam, saat masyarakat ramai-ramai membakar sebuah Pondok Pesantren Darul Ulum, Desa Gersempal, Kecamatan Omben, pimpinan Tajul Muluk. Propaganda kebencian, teror, dan intimidasi terus bertubi-tubi diarahkan kepada kelompok minoritas Syiah di sana, hingga kasus tersebut mencuat menjadi isu internasional yang tidak bisa dihapus dalam konstelasi sejarah kekerasan intoleransi beragama di Indonesia.

Belakangan, meski tak sampai terjadi persekusi dan pembantaian, setidak-tidaknya ada sebuah kasus pembubaran terhadap pengajian-pengajian UAS, ada penolakan terhadap pengajian-pengajian UAS, serta ujaran-ujaran kebencian di media sosial terus menghujani para followers UAS, sebagai bentuk teror dan intimidasi yang bisa saja  terus merambah pada persoalan yang lebih besar dan lebih seruis.

Mencari Jalan Tengah
Sebagai orang yang paham akan hakikat keberagaman, sungguh tidak patut berkelahi hanya persoalan perbedaan ideologi dan cara menafsirkan teks agama. Apalagi secara terang-terangan kita menolak UAS hanya karena berbeda dengan kita. Sungguh ini negara yang sangat menjunjung kebebasan, dan menjunjung akan hak-hak manusia. Ada baiknya, para cendikiawan menjaga konflik-konflik keberagamaan itu agar tidak terjadi, dengan alasan apapun, bukan mengorek akan perbedaan yang ada.

Meski, nantinya secara diam-diam, bisa saja, target UAS adalah membumikan wacana khilafah di negara yang menurutnya skuler. Akan tetapi, selama ini UAS tidak pernah mengajak untuk menegakkan khilafah di Indonesia, ceramah-ceramahnya masih relevan dan patut untuk didengarkan dan diambil hikmahnya. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Gus Dur untuk belajar kepada siapa saja selama itu baik.

Memang manusia selalu tidak bisa hanya dilihat dari satu dimensi saja, karena masih ada dimensi lain yang tidak dapat kita lihat, sedang itu adalah hal yang baik untuk kita ambil, yang bagi ulama sekaliber Yusuf al-Qardhawi sebagai Islam jalan tengah. Bersikap moderat dan lebih dewasa. Wallahua’lam.

]]>
1415
Agama dan Nalar Kekerasan https://kotakata.id/agama-dan-nalar-kekerasan/ Mon, 12 Feb 2018 04:52:31 +0000 https://kotakata.id/?p=1317 Kendati  reformasi—usaha untuk mewujudkan demokrasi subtantif—sudah bergulir hampir dua dekade, namun sampai detik ini kita menyaksikan tindak tanduk anarkisme pada tingkat kehidupan masyarakat, khususnya di kalangan akar rumput, masih bergulir deras. Beragam aksi kekerasan berupa pemukulan, pembunuhan, persekusi, pengerusakan, hingga penyerangan  tempat peribadatan agama tertentu tak henti-hentinya merong-rong realitas kebangsaan kita.

Kasus terbaru datang dari Sleman, Yogyakarta. Pasalnya, pada hari Minggu (11/2) kemarin terjadi penyerangan terhadap Gereja St Lidwina Sleman. Atas kejadian tersebut, beberapa jemaat dan pimpinan gereja megalami luka akibat sabetan senjata tajam yang digunakan oleh pelaku. Pristiwa Sleman tersebut tidak saja telah menodai sisi keberagaman bangsa kita, namun kian mempertegas atas kondisi kebangsaan kita yang dari waktu ke waktu terus diwarnai atau bahkan dilengketi oleh kekerasan. Boleh dibilang, aksi kekerasan ini merupakan fenomena gunung es dari beragam kekerasan yang sejauh ini kita diamkan, atau mungkin kita pandang sebelah mata.

Harus diakui, aksi kekerasan berupa penyerangan Gereja St Lidwina Sleman bukan hal baru di negeri ini. Aksi kekerasan tersebut adalah pengulangan dari sekian aksi kekerasan sebelumnya. Dan mungkin, ke depannya masih akan banyak lagi kasus serupa, bahkan dengan modus aksi yang lebih tragis dan menakutkan. Apalagi, sejauh ini kita seolah tidak cukup sadar untuk mengambil pelajaran dari sekian banyak pristiwa kekerasan yang telah terjadi.

Secara sosiologis, kita sepakat bahwa tindakan kekerasan, apapun itu bentuk dan motifnya, merupakan sebuah penyimpangan individual dari norma-norma sosial yang berlaku dalam kehidupan masyarakat (Erich Fromm), yang tidak saja berpotensi besar mengganggu stabilitas sosial, namun juga dapat memberangus kohesi dan integrasi sosial. Dan ketika kekerasan dilakukan secara berulang-ulang pada gilirannya akan memunculkan sebuah anomie, sehingga dapat melahirkan tindak kekerasan yang sama di kemudian hari.

Sebagai bangsa yang mencitai kedamaian dan ketentraman, tentu kita tidak mengingikan peristiwa serupa terulang kembali. Sebab itu, jalan satu-satunya meniadakannya adalah dengan memutus mata rantai kekerasan itu sendiri. Salah satunya adalah dengan cara mendewasakan diri dalam beragama.

Dalam banyak kasus, dorongan utama berperilaku keras seringkali dipicu oleh sentimen keagamaan yang tak terkendali. Kesalahan dalam menafsirkan agama membuat orang hilang arah. Bahkan mengubur sisi nuraninya untuk berperilaku manusiawi. Pada situasi ini, ketika agama direpresentasikan dalam tindak kekersan, maka sesungguhnya kita telah mendudukkan agama sebagai nalar kekerasan.

]]>
1317
Agama “NU” dan Madura yang Tersobek https://kotakata.id/agama-nu-dan-madura-yang-tersobek/ Wed, 24 Jan 2018 05:36:30 +0000 https://kotakata.id/?p=1231 Kasus penyisiran (sweeping) oleh sekompok ormas Islam terhadap desa yang dinilai lumbung prostitusi di Pamekasan Madura (19/1), menyentak nalar kemaduraan yang telah menyatu dengan denyut ke-NU-an dalam masyarakat Madura. Betapa tidak, akibat kasus tersebut, 10 orang, termasuk ibu dan anak-anak mengalami luka (CNN Indonesia, 22/1).

Dahulu, di pulau mungil yang penduduknya menyebar ke berbagai tempat, kesantunan dalam bersikap merupakan salah satu penanda paling jelas dari tradisi ke-NU-an. Sampai-sampai muncul anekdot soal agama “NU”, untuk menegaskan keberislaman yang santun dan ramah tradisi. Hanya, anekdot tinggalah lelucon. Arus perubahan dunia yang begitu cepat, menggeser lelucon ke-NU-an, menjadi nada beringas dalam pola tingkah keislaman masyarakat Madura.

Jika dahulu, hanya NU dan Muhammadiyah, yang tumbuh di Madura, kini bermacam ormas menyeruak di berbagai dearah Madura, termasuk kelomok Wahabi dan FPI yang selama ini dikenal ormas ekstremis, juga HTI gembong transnasionliamse Khilafah Islamiyah, yang kini sudah dibubarkan oleh pemerintah.

Berkembangnya model ormas seperti Wahabi, FPI, dan HTI di Madura, menjadi catatan penting bagi aktivis NU, untuk tak sekadar sibuk dengan urusan legal formal organisasi, namun harus menggarap ranah kultural tradisi keislaman masyarakat Madura.

Tantangan masyarakat Madura memang sangat beragam. Pasca beroperasinya Jembatan Suramadu, Madura hadir seperti kota masa depan. Tak pelak berbagai proyek pembangunan dicanangkan di Madura. Surabaya sebagai kota besar di Jawa Timur seperti hendak digeser ke pulau Madura. Maka industrialisasi merupakan sesuatu yang niscaya, yang pada akhirnya akan juga berkembang di Madura.

Sekarang isu yang santer di Madura, terutama di ujung timur, bagian Kabupaten Sumenep, adalah penguasaan tanah oleh investor asing. Daya beli yang tinggi oleh para investor, membuat masyarakat di Sumenep, sangat mudah merelakan tanahnya ditukar dengan uang jumlah besar. Tentu tak sederhana mengurai persoalan ini, selain tentang kesadaran menjaga tanah, kasus seperti ini erat kaitannya dengan desakan kebutuhan ekonomi.

Selain isu tersebut, kasus Wahabisasi, FPI-sasi, dan juga HTI-sasi di Madura menjadi isu seksi, yang banyak menjadi objek penelitian. Persoaalan ini tentu menjadi tantangan besar pemuka agama, terutama NU, sebagai ormas terbesar di Madura. Kehadiran kelompok-kelompok ormas tersebut tak pelak, meski pelan, kalau terus dibiarkan pasti akan menggeser kekuatan NU di Madura.

Sebenarnya bukan soal siapa yang kuat dan lemah, siapa yang menang dan kalah, serta siapa yang benar dan salah, namun lebih kepada bagaimana membangun moral beragama yang santun dan beradab, serta menjaga kohesi sosial masyarakat Madura, yang guyub dan penuh persaudaraan.

Setiap ormas Islam memiliki klaim kebenaran (truth claim) sendiri-sendiri, serta memikul tanggung jawab melestarikan—mendakwahkannya. Hanya kesantunan dalam berdakwah harus tetap dijaga. Ormas-ormas Islam selain NU dan Muhammadiyah, sepertinya memang kurang santun dalam berdakwah. Kasus sweeping di Pamekasan, menyobek narasi kemaduraan dan keislaman, yang telah lama ditenun oleh para kiai NU di Madura.

]]>
1231
Makna Tasawuf bagi Keindonesiaan (2) https://kotakata.id/makna-tasawuf-bagi-keindonesiaan-2/ Tue, 23 Jan 2018 11:04:09 +0000 https://kotakata.id/?p=1224 Para penyebar agama Islam paham betul, bahwa untuk mengislamkan masyarakat tidak boleh serta merta menggunakan kekerasan ataupun perdebatan, tetapi menggunakan metode Mauidzotul Hasanah (QS. an-Nahl: 125). Dengan begitu, Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Dalam agama Islam, dimensi eksoteris agama diwakili oleh syariat, sedangkan dimensi esoteris diwakili oleh tasawuf (kini direpsentasikan oleh penganut Tarekat).

Sebuah agama yang hanya mengandalkan sisi syariat, maka agama akan terkesan keras. Di sanalah tasawuf hadir sebagai solusi untuk melunakkan sisi keras agama, sehingga nanti agama senantiasa dapat hadir di segala lini kehidupan manusia, apapun bentuk zamannya. Sisi esoteris seperti itulah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, sehingga menurut Simuh, Tasawuf telah merasuk ke dalam jiwa umat Islam di Indonesia.

Dalam kajian akademis, Tasawuf terbagi menjadi dua yaitu tasawuf Falsafi dan tasawuf Sunni atau tasawuf Akhlaqi dan Amali. Tasawuf Falsafi menyatu dalam ajaran kerohanian atau kebatinan, sedangkan tasawuf Sunni terbagi dalam berbagai ordo tarekat. Misalnya Tarekat Qadiriyah yang didirikan oleh murid Syaikh Abdul Qadir al-Jaelani, Tarekat Naqsyabandiyah yang didirikan oleh Syaikh Muhammad Bahauddin an-Naqsyabandi. Serta berbagai tarekat yang lain.

Baru-baru ini, Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN), organisaai yang menaungi berbagai ordo tarekat menggelar Muktamar XII di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, dengan mengambil tema “Dengan Thoriqoh yang Berdasarkan Ahlussunnah Wal Jama’ah untuk Meningkatkan Ubudiyyah sehingga Mampu Membawa Rahmatan lil Alamin”.

Agama Islam sejatinya agama yang rahmatan lil alamin. Bahkan dalam firman-Nya, Allah SWT. mengutus kekasih-Nya untuk menjadi rahmat. Berbicara tentang rahmat, pada tulisan terdahulu saya sudah sampaikan bahwa rahmat tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi alam semesta (Baca: Agama Cinta dan Kebencian Kita).

Secara faktual, Indonesia merupakan penduduk yang terdiri dari 714 ras, dan berkat keberhasilan para penyebar agama Islam, mayoritas penduduknya beragama Islam, bahkan menjadikan Indonesia sebagai penduduk Islam terbesar di dunia.

Buah tasawuf yang menjadikan mayoritas umat Islam bersikap moderat dalam bertindak (meskipun tidak dipungkiri masih ada segelintir orang yang bersikap keras), menjadikan bangsa Indonesia tetap sebagai negara utuh bahkan hidup secara berdampingan. Terbukti, beberapa konflik dengan tangkas bisa diatasi.

Indonesia selalu menjadi lirikan oleh berbagai negara. Bahkan negara di mana agama Islam itu lahir, Arab Saudi sampai terkejut dengan kehidupan umat yang ada di Indonesia. Sehingga meminta Presiden untuk dipertemukan dengan pemuka agama di Indonesia (Kompas, 16/1/18).

Jika memang buah dari tasawuf ialah terbentuknya manusia yang moderat, maka peran tasawuf perlu kita kuatkan bersama agar bangsa Indonesia benar-benar menjadi baldatun thoyyibatun wa Rabbun ghofur.

]]>
1224
Makna Tasawuf bagi Keindonesiaan (1) https://kotakata.id/makna-tasawuf-bagi-keindonesiaan-1/ Mon, 22 Jan 2018 13:17:05 +0000 https://kotakata.id/?p=1219 Salah seorang orientalis, H. A. R Gibb (1932) pernah mengatakan, Islam is indeed much more than a system of theology, it is a complete civilization (Islam sesungguhnya lebih dari sekadar sistem teologi (agama), tetapi Islam merupakan peradaban yang sempurna).

Pandangan yang diungkapkan oleh Gibb merupakan sebuah penghargaan tersendiri bagi Islam sebagai sebuah agama. Islam senyatanya memang sebuah Agama dan juga peradaban (theology cum civilization). Menengok peradaban di Indonesia sendiri, kita dapat melihat bagaimana Islam mewarnai wajah keindonesiaan kita.

Keberhasilan para Wali Songo (Wali Sembilan) mengislamkan masyarakat Jawa tanpa disertai pertumpahan darah menandai keteduhan wajah Islam. Bahkan para Wali Songo melakukan pengislaman dengan melakukan pendekatan sufistik atau dimensi esoteris tanpa menghilangkan unsur-unsur kearifan lokal. Sehingga bagi masyarakat lokal, agama yang dibawa oleh Wali Songo tidak terkesan asing bagi mereka.

Sebagai contoh, kita melihat bagaimana corak bangungan Masjid Menara Kudus yang dibangun tanpa menghilangkan unsur agama Hindu, bahkan ketika musim Idul Qurban datang, Sunan Kudus mengganti Sapi yang dianggap sakral bagi agama Hindu dengan Kerbau, dan tradisi seperti itu terus berlangsung hingga kini.

Pengislaman yang dilakukan oleh para wali songo juga melakukan pendekatan secara sastrawi. Munadi Herlambang dalam Jejak Kyai Jawa: Dinamika Peran Politik & Pemerintahan Para Tokoh (2013) memberikan contoh tentang karya Sunan Bonang yang meliputi Puisi dan Prosa di antaranya Suluk Wijil, Suluk Khalifah, Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewuh, Suluk Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain sebagainya. Satu-satunya karangan prosanya yang dijumpai ialah Wejangan Seh Bari.

Keberhasilan penyebaran Islam sejurus dengan pengislaman budaya itu sendiri. Budaya yang bertentangan dengan syariat berhasil diubah tanpa kehilangan bentuk budaya itu sendiri. Simuh, pakar Tasawuf Islam Jawa, mengisahkan bahwa Kesultanan Demak berhasil mengislamkan Kalender Jawa tanpa kehilangan unsur-unsur jawanya. Dan hingga kini umumnya para orang tua kita selalu menggunakan kalender Jawa dalam menentukan suatu hal, seperti pernikahan, pelayaran, dan lain sebagainya (Bersambung).

]]>
1219
Rekonsiliasi Islam di Eropa: Refleksi Film AAC 2 (2) https://kotakata.id/rekonsiliasi-islam-di-eropa-refleksi-film-aac-2-2/ Wed, 10 Jan 2018 13:20:49 +0000 https://kotakata.id/?p=1054 Selama ini agama Islam memang selalu mendapat stigma buruk dari masyarakat Eropa. Dalam pandangan masyarakat setempat, Islam selalu disebut sebagai agama teroris, agama yang penuh dengan kebengisan. Dari sanalah Fahri mencoba menghadirkan pandangan berbeda tentang wajah Islam.

Dalam sebuah debat ilmiah, mengutip pendapat dari ulama kontemporer, Syaikh Badiuzzaman Said Nursi, Fahri mengatakan: “Yang patut kita cintai adalah cinta itu sendiri, sedangkan yang patut kita musuhi adalah permusuhan itu sendiri”.

Apa yang dikatakan Fahri tidak hanya sebatas ucapan, dia benar-benar merealisasikan dalam bentuk tindakan nyata kepada masyarakat sekitar, di tengah umpatan yang selalu dia dapatkan. Fahri selalu menolong tetangganya yang kesusahan meskipun mereka berbeda agama dan orang-orang tersebut membenci dirinya sebab agama yang dianut. Toh, untuk menolong orang lain tidak perlu bertanya apa agamamu kan.

Sikap Fahri yang moderat lambat laun mengubah pandangan orang-orang di sekitarnya. Nenek Caterine (Dewi Irawan) yang beragama Yahudi serta mempunyai masalah dengan anak tirinya selalu saja dia tolong meskipun oleh orang seagamanya dikatakan Amalek. Hingga pada suatu waktu nenek Caterina menganggap Fahri sebagai anaknya sendiri, sebab pertolongan yang diberikan Fahri di luar akal sehatnya.

Berbeda dengan Jason dan Keira yang kehilangan harapan setelah ayahnya tewas dalam tragedi bom London. Fahri membantu mereka berdua untuk meraih cita-citanya. Khusus untuk Keira, Fahri membantunya secara diam-diam dengan memanggil guru biola.

Beberapa hari berlalu, Keira telah menjadi seorang violin yang mampu menggesek senar biola dengan sangat indah. Bahkan, Keira menjadi maestro di dunia biola. Tetapi Keira masih belum mengetahui sosok yang membantunya memanggil guru biola secara gratis.

Setelah Keira mengetahui bahwa Fahri yang selama ini membantunya menjadi maestro, seketika mengubah pandangannya tentang Fahri begitu juga tentang Islam. Dia menyadari bahwa pandangannya selama ini keliru. Bahwa Islam sebenarnya tidak seperti yang dituduhkan oleh mayoritas masyarakat Eropa yang lain.

Kita bisa mencermati bagaimana Fahri dapat mengubah pandangan orang-orang di sekitarnya tentang Islam yang selama ini citranya dirusak dengan aksi-aksi yang tidak berperikemanusiaan. Bahkan aksi-aksi yang tak elok tersebut dilakukan dengan dalih atas nama Tuhan.

Sayangnya, film yang mengadaptasi novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul yang sama tersebut tidak menggambarkan secara utuh bagaimana rentetan peristiwa setelah Fahri menolong mereka semua.

Di dalam novel digambarkan tentang Jason yang akhirnya menjadi Muallaf setelah Fahri menolongnya untuk menjadi pemain profesional dalam sepak bola. Juga di dalam debat ilmiah, Fahri digambarkan sebagai seorang yang ahli di dalam bidang teologi dan perbandingan agama.

Tetapi itulah film, hanya diambil adegan-adegan yang menjual.

]]>
1054
Agama, Kiai Dahlan, dan Keutamaan Akal https://kotakata.id/agama-kiai-dahlan-dan-keutamaan-akal/ Tue, 09 Jan 2018 05:21:23 +0000 https://kotakata.id/?p=1027 Kehadiran agama tak lain adalah untuk menyegarkan kembali fungsi akal. Agama memang membawa manusia kepada keselamatan, keamanan, perasaan tenang, dan bahkan kesejahteraan. Apa yang dibawa oleh agama ini, tak bisa semata-mata hanya diimani, tapi juga harus dipikirkan.

Orang sering lupa, agama memerlukan akal sebagai sebuah jalan untuk memahami segala sesuatu. Bahkan kehadiran manusia sendiri dibanding dengan makhluk lain dibedakan oleh akal. Kewajiban menjalankan agama pun demikian halnya. Bila seseorang gila (kurang akal), ia tak dikenakan hukum agama.

K.H. Ahmad Dahlan adalah salah seorang kiai yang dianggap mumpuni dibanding kiai lain di masa itu karena kecerdasannya. Kita bisa menengok pengakuan yang diberikan oleh K.R.H. Hajid penasehat PP Muhammadiyah sekaligus muridnya.

KR.H. Hajid menulis di buku Falsafah Ajaran K.H. Ahmad Dahlan, “Seumpama para ulama saya gambarkan sebagai tentara, dan kitab-kitab yang tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan, toko-toko kitab, saya gambarkan sebagai senjata-senjata yang tersimpan dalam gudang, maka Kiyahi Ahmad Dahlan seperti salah satunya terntara yang tahu mempergunakan bermacam-macam senjata menurut mestinya. Kiyahi Ahmad Dahlan disamping mempunyai sifat dzakak cerdas akalnya untuk memahami kitab yang sukar, beliau mempunyai maziyah atau keistimewaan dalam khauf atau rasa takut kepada kabar bahaya besar.”

Sebagai pemimpin organisasi kemasyarakatan yang besar seperti Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan memberikan contoh bahwa agama menjunjung tinggi akal. Banyak ayat dalam al-Quran memberikan peringatan dan pentingnya menggunakan akal untuk berpikir. Ada kaitan antara akal dan hawa nafsu. Bila seorang berbuat maksiat, maka yang kuasa adalah hawa nafsu. Untuk perkara ini, Kiai Dahlan sudah memberikan sindiran juga wejangan mengenai tabiat manusia yang seperti ini. “Dalam agamaku terang benderang bagi orang yang mendapat petunjuk, tetapi hawa nafsu (menuruti kesenangan) merajalela di mana-mana, kemudian menyebabkan akal manusia menjadi buta.”

Ketika melihat fenomena keagamaan di Indonesia seperti yang berkembang sekarang ini, banyak orang melupakan akal sebagai sebuah jalan untuk memahaminya. Tak pelak, muncul ulama yang kemudian membingungkan, menyesatkan, menggiring umatnya pada jalan yang susah dinalar.

Kabar ajakan minum kencing onta dari Bachtiar Nasir yang viral itu menjadi daftar panjang agama tak dipahami dengan akal. Dalil, tak bisa sepenuhnya dipahami atau sampai pada manusia, tanpa menggunakan akal sebagai jalan untuk memahaminya.

]]>
1027
Rekonsiliasi Islam di Eropa: Refleksi Film AAC 2 (1) https://kotakata.id/rekonsiliasi-islam-di-eropa-refleksi-film-aac-2-1/ Tue, 09 Jan 2018 04:02:17 +0000 https://kotakata.id/?p=1020 Film religi mendapat sambutan baik dari publik kita. Yang terbaru, Ayat-Ayat Cinta (AAC) 2. Film berlatar Eropa tersebut telah ditonton lebih dari 2 juta orang.

Selain AAC 2, ada beberapa film Indonesia bergenre religi yang juga mengambil plot di daratan Eropa. Misalnya film berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa, yang mencoba untuk menelusuri fakta kejayaan Islam di Eropa. Kali ini, AAC 2 berkisah tentang sinisme masyarakat Eropa, khususnya warga negara Skotlandia terhadap Islam.

Rentetan tragedi kemanusiaan yang kerap kali terjadi di bumi Eropa, seperti peristiwa bom London pada tahun 2005, yang menewaskan 56 orang dan menyebabkan setidaknya 700 orang lainnya luka-luka, menghadirkan sinisme tersendiri terhadap Islam, yang selalu dipojokkan sebagai agama teroris, hingga pemojokan terhadap simbol-simbol Islam pun kerap terjadi sampai saat ini.

Dalam film tersebut, Fahri bin Abdullah (Fedi Nuril) mencoba menghadirkan nuansa baru dari Islam. Ia mengusung kehidupan Islam moderat di tengah masyarakat Eropa yang plural. Baik dari segi agama ataupun kultur masyarakat setempat.

Singkat cerita, Fahri yang hidup dengan asistennya asal Turki, Paman Hulusi (Pandji Pragiwaksono), dan sahabat lamanya, Misbah (Arie Untung). Dari malam ke malam selalu mendapatkan teror umpatan dengan kata “evil”, “monster”, dan sebagainya dari tetangganya, Keira (Chelsea Islan) serta Jason (Cole Gribble).

Bukan tanpa sebab, setelah ditelusuri kedua tetangganya tersebut ternyata merupakan anak dari salah satu korban bom London. Kehidupannya hampir mengalami broken home pasca kematian ayahnya di tragedi itu, sehingga menimbulkan stigma tersendiri bagi keduanya bahwa Islam adalah agama teroris.

Terorisme sendiri merupakan buah dari sikap radikal atas pemahaman fundamentalistik yang ada dalam setiap agama, termasuk Islam itu sendiri.

Ahmad Syafi’i Ma’arif (2013) berpandangan bahwa radikalisme lebih terkait dengan problem intern keberagamaan seseorang, sedangkan terorisme merupakan fenomena global dengan tujuan politis yang memerlukan tindakan global pula. Namun radikalisme kadang kala bisa berubah menjadi terorisme.

Problem radikalisme, khususnya terorisme dewasa ini menjadi perhatian umat manusia di seluruh dunia. Hal ini bukan tanpa sebab, tindakan terorisme memang melanda berbagai negara, termasuk yang pernah terjadi di Eropa, Prancis, beberapa waktu lalu. Selain itu, tindakan terorisme tidak bisa dibenarkan dalam setiap agama apapun.

Di dalam agama Islam sendiri, tindakan yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa sangat tidak dibenarkan. Bahkan Allah SWT. memberikan perumpamaan bahwa orang yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh manusia yang lain ataupun membuat kerusakan di bumi, ibarat dia membunuh manusia seisi bumi (Baca: QS. Al-Maidah ayat 32). Bahkan Islam menggolongkan pembunuhan sebagai dosa besar setelah syirik (Baca: HR. Bukhari dan Muslim).

Kita bisa membayangkan bagaimana masa depan kehidupan seseorang bila orang tuanya terbunuh akibat tindakan teror. Sedangkan orang tua tersebut menjadi harapan satu-satunya bagi anak-anaknya.  (Bersambung)

]]>
1020
Kencing Unta dan Cara Tepat Memahami Hadis https://kotakata.id/kencing-unta-dan-cara-tepat-memahami-hadis/ Sat, 06 Jan 2018 20:43:35 +0000 https://kotakata.id/?p=982
Oleh Muhammad Ali Murtadlo*)

Ulama klasik terbagi menjadi dua kelompok, ahli ra’yu dan ahli atsar. Kelompok pertama merupakan ulama yang mengandalkan rasionalitas dalam membaca sebuah dalil. Sedangkan kelompok berikutnya adalah mereka yang berpegangteguh kepada teks dalil. Sehingga dalam pengambilan keputusan hukum, kerap kali terjadi perbedaan.

Dalam memaknai sebuah hadis Rasulullah SAW. misalnya, ulama tak melakukannya secara serampangan. Itulah mengapa muncul ilmu Mustolahul Hadis (ilmu untuk mengkritik sebuah hadis). Kritik terhadap hadis sangat perlu, untuk mengecek kebenarannya, baik dari segi sanad (perawi) maupun matan (bunyi lafadz hadis).

Jika sudah diketahui kualitas sebuah hadis, tak lantas bisa diamalkan secara tekstual. Mereka perlu membandingkan dengan hadis serupa dari riwayat yang lain. Pun ketika telah berstatus kuat, bahwa hadis tersebut benar-benar berasal dari nabi, perlu dilakukan kontekstualisasi agar sesuai dengan keadaan dan tuntutan zaman. Itu semua dilakukan bukan dalam rangka meragukan hadis nabi, melainkan untuk hati-hati karena maraknya hadis palsu demi kepentingan tertentu pada zaman itu.

Hadis mengenai kencing unta misalnya, harus kita cek dahulu kebenarannya, melalui siapa perawinya dan dalam konteks apa hadis itu muncul. Sehingga kita tidak serampangan mengamalkan sebuah hadis. Apalagi, hanya karena seruan seorang ustad yang kita kagumi melalui media sosial, lalu secara taklid buta kita mengikutinya.

Hadis tentang kencing unta meskipun terdapat dalam Sahih Bukhari, Ibnu Hibban, Musnad Ahmad, dan Sunan Turmudzi, merupakan hadis ahad (individual) yang periwayatannya bersandar pada satu orang saja pada salah satu tingkatnya.

Selain itu, kita perlu melihat hadis ini dari segi budaya zaman nabi sampai pada era pengumpul hadis. Saat itu ilmu pengetahuan belum berkembang hingga merambah ranah penelitian tentang pengobatan yang melibatkan ilmu kimia, biologi, maupun ilmu lain yang terkait. Sedangkan saat ini, penelitian itu sangat mungkin terjadi.

Dalam hal ini, saya sepakat dengan Prof. Muhammad Machasin. Beliau mengatakan dalam akun facebooknya, bahwa kita perlu menggunakan nalar bayani. Meskipun kita meyakini bahwa apa yang bersumber pada teks adalah kebenaran, harus dilengkapi dengan penelitian yang dapat membuktikan bahwa kencing unta dapat dijadikan obat.

Sebagai orang awam, lantas kita ikut yang mana? Menelan mentah-mentah atau berusaha mencari suatu kebenaran sedalam-dalamnya?

*)MUHAMMAD ALI MURTADLO, awardee LPDP Kemenkeu RI pada Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Email: [email protected].

]]>
982
Agama Cinta dan Kebencian Kita https://kotakata.id/agama-cinta-dan-kebencian-kita/ https://kotakata.id/agama-cinta-dan-kebencian-kita/#comments Thu, 04 Jan 2018 13:47:31 +0000 https://kotakata.id/?p=924 Bagi Muhammad Iqbal, agama merupakan ekspresi keseluruhan jati diri manusia. Ketika agama masih berbentuk wahyu, ia bersifat Ilahi. Tetapi ketika agama diterima oleh manusia, ia meresap dalam seluruh relung kehidupan manusia. Dalam keadaan seperti itulah, agama menyatu dalam setiap pikiran, perasaan, serta tindakan manusia.

Setiap manusia yang beragama sepakat bahwa agama mengatur hubungan kemanusiaan, baik yang bersifat vertikal (ibadah) ataupun yang bersifat horizontal (mu’amalah).

Begitupun, kita meyakini, agama merupakan sumber tertinggi nilai-nilai moral yang mengatur sistem kehidupan manusia di alam semesta. Termasuk bagaimana memandang manusia lain seutuhnya.

Tetapi dewasa ini, sikap kita sebagai manusia beragama, perlu kita pertanyakan kembali. Di zaman yang serbah canggih ini, justru manusia mulai mencampakkan nilai-nilai agama itu sendiri.

Media sosial (medsos) yang seharusnya menjadi instrumen untuk sekadar saling sapa pun digunakan sebagai ajang saling serang. Sumpah serapah tak luput dilontaran. Bahkan tak jarang, media sosial digunakan untuk membunuh karakter seseorang.

Perkembangan teknologi dan informasi tidak berkembang secara positif. Tetapi justru membuat kebencian manusia menjadi-jadi. Manusia kini lebih berani mengumpat seseorang lewat media sosial dibandingkan mengumpat secara langsung.

Pada konteks ini, agama seperti kehilangan elan vitalnya sebagai penebar cinta dan kasih sayang. Agama yang seharusnya dijadikan sumber nilai segala sisi kehidupan, kini hanya dijadikan alat untuk menebar kebencian.

Sesungguhnya tidak ada agama yang mengajarkan kebencian. Jikalau ada, dapat dipastikan itu bukanlah agama.

Dalam kajian sufistik, agama seluruhnya diliputi cinta dan kasih sayang. Bahkan Allah pun melalui sifat RahmaniyahNya mengasihi seluruh makhluknya, tak peduli dia kafir ataupun mukmin. Bahkan semesta pun tak luput dari kasih-Nya.

Jika Tuhan pun mencinta, seharusnya manusia rela menghilangkan egonya untuk saling benci dan mulai menumbuhkan cinta kepada sesama sebagai bukti kecintaan kita kepada-Nya.

Tetapi kita belakangan lebih mudah jatuh benci dari pada jatuh cinta. Bahkan untuk mencintai sesama, kita selalu menanyakan, apa dalilnya? Meski tidak pernah ada dalil untuk saling membenci.

]]>
https://kotakata.id/agama-cinta-dan-kebencian-kita/feed/ 1 924