Budaya – KOTAKATA.ID https://kotakata.id Portal Analisis Isu-isu Aktual, Populer, dan Krusial Tue, 15 Oct 2019 04:57:14 +0000 id-ID hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.2.5 /wp-content/uploads/2017/12/cropped-Untitled-311111111111111111111111111111-4-32x32.jpg Budaya – KOTAKATA.ID https://kotakata.id 32 32 140346159 Simpang Siur Berita di Era Post-Truth https://kotakata.id/simpang-siur-berita-di-era-post-truth/ Tue, 15 Oct 2019 04:05:51 +0000 https://kotakata.id/?p=1751 Di zaman ini, kita semakin tidak bisa lepas dari media sosial. Dahulu warung-warung kopi masih banyak yang menyediakan koran untuk dibaca bergantian para pelanggannya. Berita pagi hari itu dibicarakan bersama secangkir kopi, rokok, dan gorengan. Sekarang agaknya warung kopi yang berlangganan koran sudah berkurang, mereka memilih berlomba-lomba memasang wifi untuk menarik pelanggannya.

Perubahan ini menyesuaikan kondisi masyarakat kita yang tidak bisa terlepas dari kegiatan berselancar di dunia maya. Orang lebih banyak mengetahui sebuah peristiwa terkini bukan dari situs berita apalagi Koran cetak, tetapi dari feed Instragram, timeline  Facebook, cuitan dengan hashtag teratas di Twitter, pesan berantai di grup Whatsapp atau  video top trending Youtube.

Beragam informasi yang tumpah ruah di media sosial, membuat kita sulit memutuskan mana yang benar-benar valid atau sebatas berita bohong (hoax) semata. Menjadi ironis, ketika saat ini kita berada pada era di mana suatu informasi semakin banyak dibicarakan dan diamplifikasi oleh media sosial, maka semakin menjadi fakta “abu-abu” yang kian dipercaya banyak orang. Hal inilah yang dikenal dengan istilah post-truth. Istilah ini memang bukan barang baru, kamus Oxford bahkan menempatkan kata post-truth sebagai “Word of The Year” pada tahun 2016, karena kata tersebut begitu banyak digunakan oleh umat manusia.

Orang pertama yang menggunakan istilah post-truth adalah Steve Tesich, pada artikelnya The Gorvernment of Lies dalam majalah The Nation yang terbit 6 Januari 1992. Skandal Watergate Amerika (1972-1974) maupun Perang Teluk Persia ia gunakan sebagai latar belakang untuk menunjukkan situasi masyarakat pada saat itu yang tampaknya “nyaman” hidup dalam dunia yang penuh kebohongan.

Era post-truth  adalah keadaan di mana berita bohong menjadi bagian dari sendi-sendi kehidupan sosial. Manusia semakin sulit melihat dengan jelas fakta yang sebenarnya. Era ini banyak dimanfaatkan oleh mereka yang berkepentingan mengaduk-aduk emosi masyarakat, untuk mendapatkan dukungan terhadap sikap tertentu.

Contoh teranyar yang menjadi perhatian kita bersama adalah peristiwa bulan September lalu, berupa demonstrasi penelokan mahasiswa terhadap banyak RUU yang rencananya bakal disahkan. Berita-berita yang menyertai aksi tersebut muncul di media sosial, memecah masyarakat  menjadi dua kubu, pro dan kontra terhadap aksi tersebut.

Mereka yang pro beranggapan bahwa aksi ini murni penolakan RUU yang tidak mengakomodasi kepentingan masyarakat. Diikuti dengan narasi bahwa gerakan ini di dudukung oleh masyarkat dengan adanya penggalangan dana lewat crowdfunding, foto yang beredar di media sosial bagaimana penjual buah membagikan dagangannya pada mahasiswa yang sedang melakukan aksi, pun mereka yang menyediakan air untuk menghilangkan efek gas air mata.

Mereka yang kontra mempercayai narasi bahwa aksi ini ditunggangi oleh kepentingan tertentu. Media sosial menyuarakan adanya kerusuhan yang disengaja, ambulan membawa batu, dan tangkapan layar dari percakapan grup Whatsapp, yang mengindikasikan adanya anak-anak STM pendemo bayaran.

Pada saat peristiwa  ini terjadi, salah satu hashtag yang sempat menempati posisi teratas di Twitter adalah #gejayamemanggil, yang banyak dicuitkan oleh mahasiswa untuk menyerukan aksi di Jalan Gejayan Yogyakarta. Ketika aksi demonstrasi berlangsung detiknews memberitakan tentang modus giveaway Rp 50 ribu di balik hashtag pro revisi UU KPK di Twitter. Salah satu teman saya dihubungi oleh keluarganya, karena di grup Whatsapp keluarga beredar broadcast message tentang mahasiswa yang turun kejalan untuk menggulingkan pemerintahan.

Kesimpang siuran fakta menguras sisi emosional. Efeknya banyak dari kita yang terlanjur mempercayai satu kebenaran yang banyak dibicarakan, lalu kemudian kecewa ketika terbukti bahwa kebenaran tersebut adalah suatu kebohongan. Lebih jauh, bahkan kita mungkin sudah sempat beradu argumen dengan teman atau keluarga, lalu mengalami kerenggangan hubungan.

Di era ini kita harus menjaga kewarasan diri dengan mengecek ulang setiap informasi yang kita terima. Tidak mudah percaya kabar yang datang dari orang yang kita anggap sebagai kaum intelek sekalipun. Jangan terburu-buru ikut menyikapi hal tertentu yang terlihat “seakan-akan” benar, hanya karena banyak dibicarakan di media sosial. Kita perlu menjadi skeptis dan kritis dalam memverifikasi sebuah informasi, supaya berita bohong tidak menjerumuskan kita pada kerenggangan hubungan sosial.

]]>
1751
Negara Memasung Imajinasi (2) https://kotakata.id/negara-memasung-imajinasi-2/ Thu, 03 Oct 2019 03:23:58 +0000 https://kotakata.id/?p=1718 Demokrasi tumbuh di dalam kemajemukan. Ekspresi dari semua unsur keberagaman mendapat perlindungan. Menurut Gus Dur, kemajemukan yang dibarengi toleransi melahirkan keharmonisan. Keharmonisan timbul karena sikap menghargai dan bijak dalam menanggapi sebuah peristiwa. Tidak gagap dan merenungi berbagai peristiwa yang terjadi.

Perbincangan di kalangan akademisi dan masyarakat yang memperhatikan jalannya pemerintahan sekarang adalah soal kritik. Banyak dari mreka mengatakan, pemerintah sekarang seolah anti kritik. Misalnya tentang banyaknya tuduhan pelanggaran UU ITE dan tidak boleh melecehkan presiden.

Namun kita harus paham betul mana pelecehan dan kritik. Pelecehan tumbuh dari nafsu iri dan dengki. Sedangkan kritik mengekspresikan kondisi sosial tertentu. Apakah ilustrasi gambar Pinokio di majalah Tempo termasuk pelecehan?

Penilaian orang tentu berbeda-beda. Namun kondisi sosial-politik sekarang mungkin bisa mewakili seluruh perbedaan pandangan publik. Artinya, ilustrasi wajah Pinokio di belakang Pak Presiden memuat unsur kegelisan publik. Dengan begitu, seharusnya kita sebagai makhluk terdidik meluangkan waktu sejenak, mengimajinasikan gambar tersebut, daripada reaktif pada sesuatu yang masih multitafsir.

Kontribusi Pendidikan

Melihat fakta yang ada, maka penting rasanya menyiapkan generasi emas yang lebih baik dari generasi kita. Generasi kritis, imajinatif, dan bijaksana. Tentu sekolah dan lembaga pendidikan umumnya adalah tempat paling tepat untuk memulai.

Sekolah harus berubah haluan dari cara doktrinisasi ke dialog bersama. Mencekoki pelajar dengan pengetahuan yang tidak mengandung unsur keterbukaan atau dengan cara paksa dapat membuat pelajar stagnan.

Kemampuan pelajar di dalam kelas rata-rata mengikuti apa kata pengajar. Pengajar berkata tidak, mereka patuh. Berkata iya, mereka juga patuh. Budaya doktrinisasi dalam proses belajar ini menghentikan imajinasi para pelajar. Menjadi bahaya besar jika pelajar dicekoki pengetahuan agama yang kaku. 

Menurut Metta Prajna, kelas-kelas yang dicekoki pengetahuan agama yang kaku, bisa membuat pelajar memandang rendah teman kelas yang beda agama. Jika demikian, apa yang bisa diharapkan dari pelajar yang berpikiran sempit demikian.

Tentu harapannya berubah lebih baik. Karena pandangan sempit yang mereka miliki sangat mudah membuat mereka cenderung reaktif pada sesuatu yang sifatnya sensitif.

Oleh karena itu, menurut Metta, sangat penting memberi ruang imajinasi bagi pelajar. Karakter muda mereka perlu diisi dengan sesuatu yang kompleks dan tidak menjerat mereka dengan satu pengetahuan. Mereka bukan hanya pribadi-pribadi yang mesti dikembangkan di sekolah, tapi juga di lingkungan kehidupan sosialnya. Imajinasi bisa membuat mereka berkembang lebih baik lagi. Memberi pengetahuan baru yang mungkin tidak ada di sekolah.

Persoalan pengetahuan sempit yang sering menimbulkan kegaduhan—termasuk ilustrasi wajah Presiden Jokowi di Majalah Tempo—sehinga menjadi masalah yang cukup besar. Sulit mengubah cara pandang publik secara cepat. Yang paling memungkinkan kita lakukan, mempersiapkan generasi mendatang lebih baik lagi.

]]>
1718
Negara Memasung Imajinasi (1) https://kotakata.id/negara-memasung-imajinasi-1/ Wed, 02 Oct 2019 09:58:48 +0000 https://kotakata.id/?p=1713 Laporan hukum Jokowi Mania soal ilustrasi sampul Majalah Tempo yang dianggap mendiskreditkan Presiden Jokowi, sungguh sangat disayangkan. Hal itu seharusnya tidak menjadi persoalan. Apalagi media pers adalah wadah aspirasi masyarakat.

Kita mengenal Tempo sebagai media pers yang sangat kredibel. Mampu mewadahi aspirasi rakyat secara luas dan baik. Memaknai ilustrasi wajah Presiden Jokowi di majalah sebagai bentuk penghinaan adalah sebuah tindakan yang terburu-buru. Setidaknya setiap tuduhan mempunyai dasar argumentasi. Karena sebuah ilustrasi sifatnya dinamis dan mengandung kompleksitas makna kehidupan sosial.

Ilustrasi gambar adalah bagian dari seni. Setiap seni ilustrasi mempunyai makna universal. Orang-orang bebas memaknai sebuah hasil ilustrasi gambar sesuai pemahaman mereka. Apalagi ilustrasi tersebut datangnya dari media terpercaya. Yang pasti mengandung pesan-pesan moral kehidupan.

Kalau kita coba memahaminya, gambar bayangan Pinokio di belakang wajah Presiden Jokowi serta kalimat ’’Janji Tinggal Janji’’ merepresentasikan kondisi galau antikorupsi atas janji Pak Presiden. Mereka menganggap revisi UU KPK akan menghambat jalannya pemberantasan korupsi. Gambar Pinokio mengilustrasikan di mana pak Presiden tidak menepati janjinya soal komitmen pemberantasan korupsi.

Di negara demokrasi semua orang bebas berekspresi. Kebebasan media cetak dan daring bukti bahwa ini negara demos. Seharusnya Jokowi Mania beserta PDIP memahami hal tersebut. Di negara demos imajinasi lebih dibutuhkan. Imajinasi dapat meningkatkan nalar seseorang sampai ke pemahaman yang bijaksana.

Kondisi politik kita sekarang sudah memasuki transisi budaya pelaporan, reaktif, dan kekurangan imajinasi. Setiap hal bagi mereka selalu berbau diskriminatif dan pelecehan. Keuntungannya adalah kepuasan nafsu.

Budaya tersebut kemudian menjelma UU ITE. Setiap ekspresi yang melecehkan orang lain akan masuk ranah hukum. Tentu hal ini mengganggu kebebasan berekspresi. Lebih fatal lagi, jika karya sastra dan karya seni di media sosial nanti bakal dituduh melanggar UU ITE. Dari semua itu, wajah negara kita lebih mirip wajah masa lampau di mana orang-orang bungkam dan takut.

Imajinasi adalah proses menuju telos. Dalam bahasa Yunani, telos bisa berarti akhir, tujuan, dan maksud. Berimajinasi bukan berarti membayangkan atau mengada-ngada. Klaim reaktif tanpa tahu kejelasannya, lebih dikuasai nafsu daripada imajinasi terlebih dahulu.

Oleh karena itu, memahami sebuah karya ilustrasi gambar majalah Tempo harus dibarengi dengan imajinasi. Tidak asal menuduh pelecehan dan semacamnya. Apalagi sampai dibawa ke ranah hukum. Hidup di negara demokrasi seharusnya jiwa lebih terlatih untuk menahan buruk sangka. Sebab, dalam demokrasi semua bisa terjadi. Everything will happen di negara ini (bersambung).

]]>
1713
Ujian Kesaktian Pancasila https://kotakata.id/ujian-kesaktian-pancasila/ Tue, 01 Oct 2019 08:11:54 +0000 https://kotakata.id/?p=1706 Pancasila itu sakti. Katanya. Kesaktiannya, ditandai dengan kemampuan Pancasila menghalau, bahkan menumpas ideologi komunisme pada paruh waktu tahun 1965 – 1966.

Tentu setiap perayaan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober, ingatan tentang tragedi pembantaian anggota atau simpastian PKI, selalu menyeruak dalam ingatan bangsa kita.

Segenap peristiwa kelam itu, bermula dari Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu) 1965, yang dianggap sebagai upaya kudeta. Pembunuhan enam jenderal, memicu konflik berdarah yang luar biasa. Setidaknya dalam catatan sejarah, tak kurang dari satu juta orang dibantai.

Sekarang, 54 tahun peristiwa itu berlalu. Tetapi tetap saja, ketakutan kita tentang kebangkitan komunisme tak pernah benar-benar padam. Ada saja, oknum yang memainkan isu PKI, untuk menakut-nakuti kita. Padahal, derita keluarga korban pembantaian itu, sampai sekarang masih lekang dalam ingatan mereka.

Bagimana mungkin, mereka dapat berpikir tentang kebangkitan PKI, sementara derita diri dan keluarganya tak pernah benar-benar pulih. Belum lagi sangat banyak, korban tak bersalah atas tuduhan PKI, yang mungkin sekarang sambil meratapi nasib, meraba-raba masa depannya, hidup di negara yang katanya Pancasilais.

Cukup. Derita pembataian terbesar itu, menjadi yang pertama dan terakhir, dalam sejarah bangsa kita.

Ketika belakangan kerusuhan terjadi di Papua, yang teranyar tiga puluh lebih orang meninggal, bahkan ada yang dibakar hidup-hidup di Wamena Papua. Kita menjadi terhenyak, sembari bertanya, di mana negara? Di mana Pancasila kita yang katanya sakti?

Apapun alasannya, termasuk akibat kebiadaban kelompok sparatis sekalipun, negara harus bertanggung jawab terhadap keselamatan dan keutuhan bangsa Indonesia.

Pancasila itu sakti. Sebenarnya, bukan katanya. Ia benar-benar sakti, tapi bersyarat. Pancasila itu sakti, kalau negara—pemerintah—mampu menghidupkannya.

Selama ini, Pancasila hanya dipajang di ruang-ruang pemerintahan. Tetapi sangat sedikit dari mereka, yang menghayati dalam ruang hidup—perilaku dan kebijakan.

Karena itu, setiap ada peristiwa kekerasan, baik itu pembantaian, pembunuhan, ataupun kerusuhan, kita seperti dipaksa untuk mengingat tanggal keramat kesaktian Pancasila, 1 Oktober.

Mungkin, ini ujian kesaktian Pancasila.  

]]>
1706
Menanti Film G30S/PKI Versi Milenial https://kotakata.id/menanti-film-g30s-pki-versi-milenial/ Mon, 30 Sep 2019 03:08:14 +0000 https://kotakata.id/?p=1697 Setiap tanggal 30 September, masyarakat Indonesia akan mengingat sejarah kelam penculikan sekaligus pembunuhan 6 (enam) jendral yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Tragedi percobaan kudeta kekuasaan tersebut biasa dikenal dengan Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), ada pula yang menyebutnya dengan Gerakan 30 September PKI (G30S/PKI).

Pada tahun 1984 di bawah kepemimpinan Orde Baru, dibuatlah film tentang tragedi tersebut dengan judul “Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI” yang disutradarai dan ditulis oleh Arifin C. Noer. Meskipun menampilkan adegan-adegan sadis yang berlebih, nyatanya film ini menjadi tontonan wajib setiap tanggal 30 September selama 13 tahun kepemimpinan Orde Baru, hingga akhirnya penayangan tersebut dihentikan pasca lengsernya rezim tersebut.

Selama 13 tahun tersebut, Orde Baru melalui Departemen Penerangan (kini Departemen Komunikasi dan Informatika) melakukan propaganda sejarah tentang tragedi G30S yang didalangi oleh PKI. Pun selama 13 tahun tersebut, Orde Baru yang dipimpin oleh Jendral Soeharto mendoktrin masyarakat Indonesia tentang keberhasilannya dalam membasmi PKI hingga ke akar rumput.

Gayung bersambut, seiring berjalannya waktu, banyak para pakar sejarah mengkritik tentang fakta sejarah yang tersurat dalam film tersebut. Di antaranya banyaknya rekaan-rekaan film yang tidak sesuai dengan peristiwa sebenarnya. Maklum saja, film tersebut merupakan alat propaganda penguasa demi melanggengkan kekuasaannya. Dan tentu saja, sejarah akan ditulis sesuai kehendak para penguasa, bukan?

Sebuah film tentu memiliki arti tersendiri bagi para penontonnya. Selain sebagai sarana hiburan, sebuah film dapat menjadi sarana pendidikan sekaligus alat indoktrinasi bagi para penontonnya, sehingga ia dapat mengingat secara detail, baik adegan maupun dialog yang terkandung di dalamnya. Film Dilan 1990 misalnya, yang membuat para milenialis (sebutan untuk kaum milenial) tergila-gila dengan kata “Kamu jangan rindu, rindu itu berat, biar aku saja” yang menghebohkan jagad dunia maya.

Di tengah perdebatan pro dan kontra tentang kebenaran sejarah film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI, tentu saja kita menginginkan film tentang tragedi kelam tersebut dengan sinematografi yang lebih kekinian, sehingga dapat menarik minat para milenialis untuk menontonnya, tentu juga dengan alur dan sudut pandang yang lebih berimbang.

Melalui pembuatan film sejarah yang lebih kekinian, semoga semakin menarik simpati para milenialis agar tidak melupakan sejarah bangsanya. Sebagai sebuah bangsa, tentu kita tidak boleh melupakan sejarah. Dari sejarah kita akan belajar bagaimana menghadapi persoalan di masa mendatang. Melupakan sejarah berarti menolak bangsa ini untuk maju dan lebih berkembang.

]]>
1697
The Santri, Simbol Kemodernan Kaum Sarungan https://kotakata.id/the-santri-simbol-kemodernan-kaum-sarungan/ Mon, 23 Sep 2019 02:41:09 +0000 https://kotakata.id/?p=1585 Beberapa waktu lalu, film The Santri garapan sutradara fenomenal Livi Zheng menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan masyarakat. Film yang dibintangi Wirda Mansyur, Veve Zulfikar, dan Azmi Iskandar tersebut ramai diperbincangkan di berbagai grup Whatsapp, Twitter, Facebook hingga menjadi jajanan pelengkap di warung kopi. Perbincangan film tersebut memuncak dengan munculnya hashtag #tolakthesantri yang menjadi trending topic di jagad raya Twitter beberapa waktu lalu.

Meskipun masih berupa trailer, nyatanya mereka yang kontra terus mengomentari beberapa adegan yang menurutnya tidak sesuai dengan tradisi santri itu sendiri, di antaranya adalah adegan ketika dua orang santri memasuki gereja sembari menenteng tumpeng ke pastor yang tengah berdiri di hadapan jemaatnya. Selain itu, ada juga yang mengomentari adegan saat Azmi menyerahkan buku catatan berkalung tasbih ketika tengah berduaan dengan Wirda Mansyur di tengah hutan.

Di tengah pro dan kontra yang ada, sebuah film tidak akan bisa menggambarkan secara utuh tentang tema yang diangkatnya, termasuk film The Santri yang mengupas sisi kehidupan para santri di pondok pesantren. Dalam sebuah film, pasti ada sisi yang direduksi agar dapat memuat sisi film yang lain dengan hanya berdurasikan sekian jam.

Beberapa film yang lalu juga demikian. Film Bumi Manusia garapan Hanung Bramantyo yang diangkat dari Novel yang sama karya Pramoedya Ananta Toer tidak dapat memuat keseluruhan adegan peristiwa yang tersurat dalam novel tersebut. Pun demikian dengan Film Ayat-Ayat Cinta (baik yang pertama ataupun yang kedua) tidak bisa memuat keseluruhan adegan peristiwa yang yang tersurat dalam novel tersebut.

Para pembuat film lebih memilih untuk memasukkan adegan-adegan penting dan membuang adegan yang tidak terlalu mempengaruhi jalannya sebuah cerita. Bahkan ada pula yang mengubah satu karakter tokoh ke karakter yang lain, agar film tersebut berjalan tidak membosankan.

Film The Santri yang mengisahkan tentang santri beserta seluk-beluknya tidak lepas dari reduksi tersebut. Meskipun tidak dapat menggambarkan secara utuh tentang kehidupan santri di pondok pesantren, film The Santri nyatanya mampu memperlihatkan kemodernan kaum santri yang identik dengan kaum sarungan, kaum yang selama ini dianggap sebagai kaum yang kolot serta selalu ketinggalan zaman. Hal tersebut terlihat pada akhir trailer bagaimana seorang santri dapat melanjutkan studinya ke Amerika Serikat setelah dia lulus dari pondok pesantren.

Di tengah pro dan kontra tentang film tersebut, bukankah kita tetap selalu penting belajar banyak hal, termasuk pada film The Santri.

]]>
1585
Urgensi Kemesraan Ulama dan Umara https://kotakata.id/urgensi-kemesraan-ulama-dan-umara/ Sun, 11 Mar 2018 06:15:32 +0000 https://kotakata.id/?p=1389 Ada hal menarik terjadi pada kegiatan pengajian di Masjid Az Zikra, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (4/3) yang disiarkan secara live di salah satu statisun televisi. Kejadian tersebut adalah Bapak Jenderal Pol Tito Karnavian, Kapolri, hadir dan bertanya kepada Ustd. Abdul Somad sebagai penceramah dalam kegiatan pengajian tersebut.

Bukan terkait isi pertanyaannya yang disampaikan oleh Pak Tito melaikan kemesraan Ulama dan Umara yang patut diapresiasi. Isi pertanyaan bisa saja berupa retorika semata, tetapi hadir dan duduk bersama serta menyampaikan pertanyaan yang jika dilihat dari isi pertanyaanya Pak Tito pasti sudah tahu jawabannya merupakan hal luar biasa. Di sela-sela kesibukannya Pak Tito menyempatkan hadir dan semraung dengan masyarakat. Simbolisasi ini merupakan strategi jitu yang patut diapresiasi.

Indonesia sebagai negara dan bangsa yang besar tentu membutuhkan strategi khusus menangkal gerakan fundamentalisme agama serta isu terorisme yang muncul akibat dari gerakan itu. Langkah represif bukanlah solusi yang tepat untuk masyarakat majemuk seperti Indonesia ini, tetapi menjadi bagian dari masyarakat, membaur dengan mereka dalam kegiatan keagamaan adalah langkah yang sangat strategis.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjelaskan “Ada dua golongan di antara umat manusia yang apabila keduanya baik maka akan baiklah seluruh manusia, dan apabila kedua golongan itu rusak maka rusaklah seluruh manusia, yaitu ulama dan umara” (HR. Abu Nu’aim). Dalam konteks di atas kapolri sebagai umara dan Ust. Abdul Somad sebagai ulama karena kemashurannya dalam ilmu agama dibidangnya.

Jika dua kelopok terserbut senantiasa damai dan mesra, umara amanah dalam menjalankan tugas kenegaraan dan memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, sementara ulama istiqamah dalam membina umat, maka cita-cita untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang besar Insya Allah akan tercapai. Kemesraan ini tentu harus menjadi budaya yang terus dipertahankan. Jangan sampai Indonesia menjadi negara seperti negara-negara Islam yang selalu dilanda konflik antar ummat seagama.

Pada tahun politik di 2018 ini sudah seyogyanya ulama dan umara menempatkan dirinya sesuai dengan proporsinya. Jangan sampai akibat dari kepentingan politik mengorbankan jati dirinya. Jika status keduanya sudah tergadaikan, maka seperti sabda Nabi tersebut, jika ulama dan umaranya rusak maka rusaklah seluruh manusia.

]]>
1389
Tak Perlu Valentine’s Day untuk Jatuh Cinta https://kotakata.id/tak-perlu-valentines-day-untuk-jatuh-cinta/ Wed, 14 Feb 2018 13:21:56 +0000 https://kotakata.id/?p=1323 Setiap tanggal 14 Februari, para kawula muda biasanya merayakan hari Valentine’s Day. Pada hari tersebut para kawula muda berbagi cokelat, bunga, ataupun sejenisnya sebagai ungkapan cinta dan kasih sayang mereka pasa sesama, terutama pada kekasihnya.

Terlepas dari bagaimana historitas sesungguhnya Valentine’s Day itu sendiri, serta riuhnya seliweran hadis tasyabbuh di linimasa tentang perayaan hari itu, ada yang menjadi perhatian khusus penulis dari perayaan Valentine’s Day, yaitu pengekspresian dari pada cinta itu sendiri.

Berbicara tentang cinta, sulit untuk mendefinikan istilah tersebut. Sebab cinta tidak bisa diungkapkan hanya melalui untaian kata, tetapi cinta merupakan bentuk konkret perilaku itu sendiri. Cinta yang sekadar diucapkan melalui untaian kata, bisa jadi untaian tersebut hanya diberikan untuk memberikan rayuan sekejap tanpa adanya perwujudan konkret. Sehingga cinta hanya menjadi untaian kata yang tidak bermakna.

Lalu bagaimana sesungguhunya ekspresi cinta itu?

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW. sedang menghadapai sakaratul maut dengan sakit yang luar biasa, nabi tetap mengingat umatnya, bahkan menghendaki seluruh rasa sakit sakaratul maut umatnya dilimpahkan kepada dirinya. Sesuatu yang tentu sangat sulit dijumpai hari ini pada figur publik atau ulama kita. Kecintaan nabi yang luar biasa pada umatnya menarasikan ekpresi konkret dari cinta itu sendiri, yang belakangan semakin tersisih dalam kehidupan kita.

Selain kisah di atas, sosok ibu juga bisa menggambarkan ekspresi cinta yang sesungguhnya. Dari sejak mengandung, ibu tidak pernah berkeluh kesah tentang berbagai derita yang ia rasakan, sampai kemudian mengantarkan kelahiran anaknya ke dunia hingga membesarkannya. Tidak ada sedikitpun kebencian dari ibu kepada anaknya, bahkan dalam keadaan sakit, ibu tetap saja memberikan cinta dan kasih sayangnya. Sehingga tidak mengherankan kalau ibu ditempatkan lebih tinggi dari seorang ayah.

Jika bisa kita sarikan, cinta yang sesungguhnya adalah sebuah pemberian tanpa mengharapkan balasan dari apa yang diberikan. Jikalau masih mengharap balasan, maka hal itu bukanlah cinta.

Mengutip perkataan Candra Malik, “Tidak ada yang salah ketika jatuh cinta, tidak ada yang benar ketika jatuh rindu”. Maka sesungguhnya orang yang sedang jatuh cinta akan melakukan apa saja ketika sedang larut dalam buaian cinta, termasuk berbagai hal yang dinilai ganjil dalam masyarakat.

Dalam beribadah pun seorang Salik (penempuh jalan kesufian) dalam mengekspresikan cinta kepada Tuhannya dilakukan dengan berbagai cara, ada yang tiada henti memutar biji tasbih hingga menggeleng-gelengkan kepalanya. Bahkan ada yang setiap hari tiada henti menyebut asma suci-Nya hingga pada satu titik, ruhnya pun ikut berdzikir (dzikir ruh).

Manusia bebas untuk mengekspresikan rasa cintanya, baik kepada Tuhannya ataupun kepada sesamanya. Tidak pernah ada dimensi ruang dan waktu yang membatasi. Jika sudah jatuh cinta, maka tidak perlu menunggu Valentine’s Day kan untuk sekadar mengekspresikan cinta?

]]>
1323
Kompleksitas Manusia Masa Kini https://kotakata.id/kompleksitas-manusia-masa-kini/ Tue, 06 Feb 2018 13:56:50 +0000 https://kotakata.id/?p=1295 Sejak mendengungnya isu Globalization Era, ASEAN Economic Community Era, dan World Free Trade Era, setiap orang berlomba menjadikan dirinya pesaing tangguh untuk kompleksitas tuntutan dunia.

Setiap orang berusaha meng-upgrade rutinitas dan aktivitasnya supaya dapat bersanding sejajar dengan gesitnya ritme perubahan zaman. Mereka terjerat dalam jejaring kemajuan budaya masa kini, melebur dalam denyut peradabannya, dan giat berupaya mengejar target-target kesejahteraan duniawi yang ingin diraih.

Di zaman yang menawarkan segala hal instan dalam dunia yang lebih luas, manusia dituntut menjadi pribadi yang semakin lincah tanpa batas, siap untuk apapun, kapan pun, dan dalam kondisi bagaimanapun. Keresahan dan hal-hal sepele yang tak terpresdiksi (unpredictable) sering dipandang sebagai peluang peningkatan kesejahteraan.

Lihat saja, saat hujan tiba, entah dari mana datangnya, berduyun-duyun para pengojek payung menawarkan jasanya. Ketidakpastian masa turun hujan telah dijadikan sebagai salah satu penambah jalan rezeki. Ingin belanja tapi pergi ke pasar dianggap riweh dan menyita banyak waktu, para pengejar kesejahteraan melihatnya sebagai peluang bisnis, lalu lahirlah portal perbelanjaan online. Manusia hari ini bisa berbelanja di mana saja kapan saja, sambil melakukan apa saja.

Saat ingin berpergian tapi malas menyetir mobil sendiri atau malas berpanas-panas menunggu moikrolet di tepi jalan, telah tersedia ojek online, sekali klik “order” di celah sebelah manapun rumah Anda, mereka bersedia menjemputnya. Sedang lapar tetapi malas keluar rumah, ada jasa food delivery. Mau kirim barang tapi tidak punya waktu untuk sekadar ke pos pengiriman, ada online send.

Begitupun untuk belajar, hari ini telah banyak portal yang menawarkan pembelajaran secara online, dengan harga yang beragam dan waktu yang fleksibel. Online learning kini menjadi pilihan jitu dan jalan yang mempermudah interaksi guru dari belahan dunia manapun dengan murid mayanya. Mungkin ini pemutakhiran dari konsep education is everywhere, mereka tidak harus bertemu untuk berinteraksi.

Manusia kini hidup pada dimensi tanpa batas. Segala hal di dunia terlihat simpel dan serba instan. Manusia dituntut untuk berpikir beyond imagination. Pandai-pandai menangkap peluang dan menjadi fleksibel adalah kunci utama kesejahteraan finansial.

Sekarang manusia bisa menikmati segala hal hanya dengan berkomunikasi via online. Segala yang diinginkan secara instan akan hadir. Bukankah keinstanan telah menjadikan manusia cenderung melupakan etika kamunikasi langsung? Bayangkan saja, hari ini, pemberian bintang 5 telah menjadi apresiasi yang lebih penting dari pada ungkapan terima kasih, karena koleksi 5 bintang akan mendatangkan tambahan kesejahteraan bagi penyedia jasa.

Singkatnya, budaya dan pola pikir manusia masa kini semakin berkembang dan cenderung bergeser. Esensi budaya dalam masyarakat mencerminkan identitas atau etnisitasnya yang mengacu pada tata cara kehidupan bermasyarakat, mencakup etika (sopan santun), norma-norma perilaku, ideologi, pandangan dunia, filosofi kehidupan, pakaian, bahasa, makanan, dll (Ika Yunia Fauzia, 2009).

Dalam ranah persesuaian sistematis terhadap arus manusia global, identitas keindonesiaan kita sedang dalam kondisi kritis (diuji). Citra Indonesia dengan masyarakatnya yang ramah, sumeh, menjunjung tinggi kesopanan dan kepedulian terhadap sesama. Dalam perkembangannya, kini pola pikir manusianya telah bergeser, sudah tidak ada bedanya antara yang peduli dan sok ingin tahu, keduanaya dianggap kepo. Memuji atau membicarakan kebaikan orang lain untuk memotivasi diri dan gosipin orang cenderung dianggap rumpi dan julid. Selalu tampil sopan dan ramah kepada setiap orang di manapun kapanpun kini telah dianggap lebay.

Bukankah sudah seharusnya manusia masa kini lebih pandai mengelaborasi keresahannya dalam perhitungan yang kompleks, sebagai upaya menangkap peluang dan mengeksplorasinya tanpa menafikan identitas bangsanya.

]]>
1295
Generasi Milenial dalam Literasi https://kotakata.id/generasi-milenial-dalam-literasi/ Sun, 28 Jan 2018 07:59:00 +0000 https://kotakata.id/?p=1253 Zaman semakin maju, menjadikan persoalan manusia semakin kompleks. Alat komunikasi dan informasi yang kian maju, mengubah manusia modern menjadi manusia post modern. Manusia post modern dikenal sebagai makhluk yang ingin cepat, tepat dan akurat dalam menjalani kehidupannya. Hal ini dirasakan oleh manusia generasi milenial. Generasi milenial atau biasa disebut generasi “Y”, dikenal lahir antara tahun 1980 sampai 2000. Masih sedikit studi di Indonesia yang menyinggung generasi milenial, namun di beberapa negara, seperti Amerika sudah mengadakan riset mengenai generasi ini.

Riset yang dilakukan oleh Pew Researh Center di Amerika menemukan bahwa generasi milenial memiliki suatu keunikan dibanding generasi sebelumnya (generasi X). Perbedaannya terletak pada penggunaan teknologi dan budaya pop. Generasi milineal lebih cenderung membutuhkan teknologi, internet, dan hiburan dibandingkan makanan. Bahkan bisa juga dikatakan teknologi merupakan kebutuhan primer bagi generasi milenial, bukan lagi menjadi barang tersier seperti yang diajarkan ketika sekolah dasar dulu.

Bergeraknya teknologi yang semakin kompleks ditakutkan akan menjadi momok tersendiri dalam bidang literasi di Indonesia. Tidak perlu data konkret mengenai hal ini, silakan cek di sekitar lingkungan Anda, anak berumur 15-30 tahunan. Berapa banyak dari mereka yang mengahbiskan waktunya untuk bermain Mobile Legend atau sekadar internetan, dibandingkan yang membaca buku ketika menganggur?

Hal ini memang lumrah terjadi, pasalnya internetan merupakan ciri khas dari generasi milenial. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, mampukah generasi milineal bertahan dengan minimnya budaya literasi yang ada saat ini? Buku adalah jendela dunia, kini berganti dengan Instagram jendela alam semesta. Zaman dahulu berbincang di beranda rumah bersama kawan sangatlah asyik, namun kini chating di beranda Facebook jauh lebih menyenangkan. Bukan berarti menggunakan internet itu buruk, bukan berarti juga membaca buku secara konvensional berarti ketinggalan zaman. Dampak malasnya membaca buku, juga berdampak terhadap budaya menulis. Seandainya generasi milenial juga memiliki keunikan mengenai literasi, mungkin kekhawatiran ini akan sirna.

Berkaca pada para perjuang terdahulu, mulai dari Soekarno, Tan Malaka hingga Wiji Thukul memiliki karya berupa tulisan, hingga kini tulisan tersebut masih bisa dinikmati. Meminjam perkataan dari Imam Ghozali “Jika engkau bukan anak raja atau ulama besar maka menulislah”. Semoga generasi Milenial ini mampu mempertahankan tradisi literasi yang telah dilakukan para pendahulu negeri ini, sehingga tulisannya bisa dinikmati generasi selanjutnya.

]]>
1253